SARMANI : SENI ADALAH LONCENG UMAT

22.04

Menjadi seniman, tentunya bukanlah satu profesi yang lazim dipilih, terlebih pada era sekarang, dimana profesi diartikan sebagai sebuah pekerjaan yang menghasilkan uang berlimpah. Menjadi seniman mestilah siap mental, karena banyak faktor. Dua diantaranya adalah tingkat apresiasi masyarakat kita pada seni masih harus terus dibangun, dan kesenian membutuhkan ‘keikhlasan’ dalam menjalankan prosesnya. Hal inilah kiranya yang melandasi Sarmani (59) tetap bertahan di Ubrug. Sejak berumur 6 tahun, dia sudah gandrung menonton bahkan ikut serta dalam tiap pertunjukan Ubrug.
            Ubrug merupakan salah satu jenis teater rakyat yang hidup dan berkembang di Banten. Ditengarai Ubrug sudah ada sejak 1900-an, dan grup Ubrug tertua adalah Ubrug Nyi Ponah yang ada di Tangerang. Bentuknya hampir mirip dengan teater rakyat di daerah lain, misalnya lenong, mastres,  atau ludruk.
            Dalam menekuni keseniannya, Sarmani telah melewati beragam tantangan dan pantangan. “Pernah satu kali, anak saya merasa malu karena diejek kawannya gara-gara saya jadi pemain Ubrug. Saya pun bilang ke anak saya, walau pekerjaan saya begini, nanti, guru-guru mereka itu akan belajar sama saya”. tukasnya diiringi senyum tipis. Apa yang diutarakan Sarmani itu bukanlah bentuk kesombongan, karena hari ini, Sarmani telah membuktikan ucapannya itu dengan kerap diundang sebagai instruktur seni tradisi oleh banyak pihak, termasuk sekolah-sekolah. 
Bagi lelaki yang berposisi sebagai penabuh kendang ini, baginya kesenian adalah lonceng umat. Lewat kesenianlah, agama menjadi sesuatu yang lebih indah. Dia mengumpamakan lantunan adzan yang selalu dikumandangkan tiap waktu sholat, begitu indah didengarkan karena mengandung nada dan irama. “Sering, kami diminta untuk terlibat dalam penyuluhan-penyuluhan pemerintah. Seperti kemarin di BNN” tukasnya.
Begitulah, Sarmani telah meniatkan dirinya untuk mendedikasikan hidupnya bagi Ubrug dan seni musik tardisional lainnya. Dia tidak pernah mengeluh dan mengaduh, meski beban hidup kian menghimpit. ***

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »