Raksa Budaya Perkenalkan Tari Walijamaalih

01.35
Menjaga konsistensi komunitas dalam rentang waktu yang panjang tentunya tidaklah mudah, ada proses duka dan suka yang menemaninya. Seperti yang telah dilalui sekaligus dibuktikan oleh sanggar tari Raksa Budaya (RB). Sejak didirikan pada Januari 1986 di Serang, proses awalnya juga harus dilalui secara perih, namun kini, setelah 35 tahun bekerja keras, Maya Rani Wulan dan kawan-kawan telah mengecap hasil dari perjuangannya selama ini.

Saat ini, Raksa Budaya telah memiliki sebuah ruang latihan (indoor/outdoor) yang cukup luas di daerah Ciracas, tepatnya di Jl. Kenanga No.6 Ciracas Serang. Diawal pendiriannya, Raksa Budaya sendiri ditujukan sebagai wadah pembinaan seni budaya banten, dan direalisasikan dalam beragam upaya pembinaan, seperti pelatihan tari untuk beragam tingkatan usia, penciptaan karya tari kreasi tradisi, resital tari, dan pagelaran rutin.

Menjadi sanggar tari professional dan terdepan merupakan impian para pendirinya, dan nampaknya jalan itu sudah diretas dengan beragam prestasi yang diraih, beberapa diantaranya dengan terlibat di pelbagai event internasional seperti: Iga Rostock (Jerman), Bourdeux-Nantes-Prancis dan Festival Tari Melayu Nusantara di Sumsel. Selain itu, mereka juga sudah berhasil menciptakan beberapa tarian kreasi kebantenan, diantaranya Banten Katuran, Grebeg Terbang Gede, Maler Bedug, Gitek Cokek, Bedug Warnane, Gitek Ganjen, serta Ngebaksakeun.

Tari Walijamaalih

Pada 5 November 2010, beberapa pemimpin sanggar tari berkumpul mencurahkan pikirannya dalam membuat sebuah karya tari kreasi. Alhasil, dari pertemuan itu terciptalah sebuah tarian bernama Walijamaalih. Tarian ini diciptakan atas prakarsa gubernur Banten, Hj. Ratu Atut Chosiyah dan Egy Djanuiswaty sebagai visualisasi perkenalan daerah Banten yang sarat daya tarik dengan potensi alam yang berlimpah dan memiliki nilai sejarah tinggi, serta budaya masyarakat yang religius.

Dalam penciptaannya, tarian ini terdiri dari 20 alur gerak yang diadopsi dari gerak-gerak tari sunda serta kembang dari jurus silat terumbu serta bandrong. Kendang, goong patingtung, calung renteng dan angklung menjadi pembentuk musikalitas latar tari ini untuk memberikan aksentuasi garapan. Rohaendi, Maya Rani Wulan, Eka Agusdini, Nurhidayat, Sukemi, Muhammad Shaleh, Wawan Widarana, Wisnu Kuncoro, Dadie Rsn dan Tb. Sirodjudin adalah segenap pihak yang mengelaborasi penciptaan tarian penyambutan tamu agung ini.

Saat ini, segenap pihak yang terlibat, terus berupaya untuk mensosialisasikan tarian ini agar bisa berkembang di masyarakat secara luas. Begitupun yang dilakukan Maya Rani Wulan dkk, mereka berjibaku tak kenal lelah menggaungkan tarian ini sebagai sebuah kebanggan Banten. ***

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »