Puisi - Puisi Iskandar Noe

21.15


KATANYA BURUNG NAZAR
  
Sungguh aku bernazar
untuk bercerita tentang burung nazar
tetapi cerita itu hanya kutipan-kutipan
sebab di negeriku tak ada burung itu
yang ada burung gagak

Katanya
Burung nazar punya misi khusus 
melestarikan alam lingkungan 
dari mayat-mayat busuk
hewan-hewan liar
dan manusia korban perang suku

Katanya
Burung nazar pemakan mayat
ia bisa mencium bau kematian
Ia akan hinggap didekat calon mayat
di bubungan atap
atau pohon-pohon didekatnya

Katanya
Orang yang mau mati menebarkan bau
undangan
ditangkap oleh burung nazar 
yang punya energi dekompositif
pada sistem neuro biologisnya

Katanya
ia akan datang ketika kematian hampir tiba
dan menghabiskan makanan dengan bersih
bahkan tulang-tulang muda dipatuk dan dimakan
bersih putih tak bersisa

Katanya, Katanya
Kata si Nazar

Jangan cuma katanya
kata si Nazar

Buktikan bahwa Aku Nazar pemakan bangkai
Itu memang naluriku

Jangan Cuma Katanya, Katanya

***

Noe 29/05/2011


AKU
(Dengan permintaan maaf kepada Chairil Anwar)

Kalau sampai waktuku
Aku mau tak seorangpun merayuku
Biarkan aku minggat kenegri seberang situ
Toh masih sama-sama tanah melayu

Tak perlu nangis sedu-sedan itu
Aku ini bukan binatang jalang
Tetapi ada orang bilang 
Aku ini oportunis petualang

Tak usah takut peluru menembus kulitku
Paling-paling orang dan media ribut dahulu
Aku tetap meradang menerjang
Tetapi orang bilang lari tunggang-langgang

Uang dan visa kubawa berlari
Sampai hilang pedih perih

Dan aku lebih tidak perduli
Dengan uang barangkali
aku mau hidup seribu tahun lagi

***

Noe/27/05/2011


MENGGEDOR PINTU SORGA

Keprihatinan dan kesedihanku tuntas sudah
Melihat lagi-lagi melihat
berbuat lagi-lagi berbuat
sesama saudara dilempari batu disayat-sayat dibunuh.
apa salah mereka?
cukup sesal?
begitu aku bertanya
 
Apakah kiranya kita Setelah peristiwa dan bencana
hanya dapat mengutuk dan menyesalkannya
tanpa bisa mencegah amuk dan angkara murka

Marah, kugedor-gedor pintu sorgaMu
Langit mendung biru
Matahari suram membatu

 Berteriak lantang:
Tuhan itukah aku?
yang bertahun-tahun rindu kepadamu
tetapi tiba-tiba jadi dungu
atas namaMu, membunuh saudaraku
Hilang malu, Darah beku

Lagi-lagi tusuk, Lagi lagi kepruk Lagi-lagi aku terpuruk

Kemana lagi kulemparkan suaraku Kalau tidak kelangitMu
Kemana lagi kularikan kutuk bagiku

ketika kuteriakkan namaMu namun kusayat-sayat kejam saudaraku
Tuhan kenapa diam? Apakah hanya cukup tanda
Langit yang suram?
***

Iskandar Noe, 07/02/2011


EMAK

Emak
Lima pohon kelapa, 
Sebidang tanah bertanam kacang
Dan musim-musim kemarau panjang
Tak menghasilkan harapan
Lebih banyak menyimpan kesakitan

Sedang dikota 
Nurdin menjanjikan
Setiap minggu dapat pemasukan
Dari sisa uang makan, 
ada yang bisa disimpan

Emak
Biarkan aku berangkat diam-diam
Biar janji dan masa depan
Kusimpan dalam ingatan
Kalau Nurdin berani
Kenapa aku mesti tetap disini

Dikapal kukirim salam yang tersisa
Betapa perlu aku bantuan doa
Semoga ombak ramah mengantar
Dan pantai baru ranah pijakan

O, emak
Tanah baru tak lebih biru
Namun engkau tak boleh tahu
Kusembunyikan dalam kepenatanku
Melewati antrean panjang
Surat-surat yang dibaca para askar
Tempat tidur dilantai sehelai tikar

Kota lebih ganas dari semak belukar
Menipu menghasut mendesak melempar
Betapa penting pesan emak untuk berhati hati

Bertahan sampai lebaran kelima mak
Aku pulang 
Dengan kegembiraaan yang kutahan
Sekedar mencium pelipismu yang beruban

Kerna barang bawaan yang kuserahkan
Pasti akan engkau bagi-bagikan
Kerna aku telah belajar padamu
Cara memberi dengan kerelaan

Emak,
Ternyata engkau lebih pandai menyembunyikan
Keberangkatan yang tak pernah engkau sampaikan
Perkenankan aku menangis dengan bunga yang kutaburkan
Ya, ya keberangkatan adalah sebuah kehilangan


SUTI

(Dulu engkau berjanji
Setahun akan menyusulku kembali
Kenapa kau tunda setahun lagi Suti?)

Bukankah cukup modal untuk berjualan dirumah
Dari hasil kita berjerih payah
Pulang sekarang bersamaku, ayolah.
Tak usah visa diperpanjang
Ganti majikan tidak tidak gampang
Majikan lama terlalu baik bagi kita

Gambarmu yang kau titipkan kemudian
Terlihat tidak meyakinkan
Engkau kehilangan warna
Kurus pucat tak berjiwa

Kini di bandar udara
Aku mengawal tubuhmu
Dalam kotak yang tak boleh dibuka
Tangis apa yang bisa menukar kecewa
Sia-sia.....



Noe: 29/11/2010

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »