KITA VS KORUPSI

01.34


Praktik korupsi sudah menjadi budaya dalam kehidupan kita sehari-hari. Didepan mata praktik  korupsi kerap terjadi mulai oknum pegawai dari yang rendah sampai level yang tertinggi, oknum kepala sekolah, oknum kepala desa, oknum polisi dan oknum para penegak hukum lainnya serta tentu saja oknum para pejabat dinegeri ini. Mereka semua seolah sudah terbiasa dengan proses penyuapan berjumlah puluhan ribu rupiah sampai pada kasus penyelewengan uang negara berjumlah triliunan rupiah. Saking membudayanya, praktek korupsi meluas di semua segi kehidupan, mark up, berbohong, menyontek di sekolah, datang terlambat, memberi hadiah sebagai pelicin dan sebagainya. Dalam kamus bahasa Indonesia Korupsi berarti penyelewengan atau penyalahgunaan uang negara untuk kepentingan pribadi atau orang lain. Secara harafiah, Ensiklopedia bebas Wikipedia menerangkan bahwa korupsi adalah perilaku pejabat publik, baik politikus/politisi maupun pegawai negeri, yang secara tidak wajar dan tidak legal memperkaya diri atau memperkaya mereka yang dekat dengannya, dengan menyalahgunakan kekuasaan publik yang dipercayakan kepada mereka.

Melihat kenyataan ini Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mencoba menumbuhkan budaya antikorupsi dengan berbagai cara, salah satu diantaranya adalah melalui pendekatan media film. Bekerja sama dengan Transparency International Indonesia (TI-Indonesia), United State Agency International Development (USAID) dan Indonesia Corruption Watch (ICW), KPK membuat film yang berjudul “Kita versus Korupsi”. Film berdurasi sekitar satu setengah jam ini terdiri dari gabungan empat film pendek yang berjudul “Rumah Perkara” karya Emil Heradi, “Aku Padamu” karya Lasya F Susatyo, “Selamat Siang, Risa!” karya Ine Ferbriyanti, dan “Psttt..Jangan Bilang Siapa-siapa” karya Chairun Nissa. Tak main-main, film ini dibintangi sederet aktris berbakat diantaranya Nicholas Saputra, Revalina S Temat, Tora Sudiro, Agus Ringgo serta Teuku Rifnu Wikana.

Film ini bertujuan mengedukasi masyarakat luas agar tumbuh kesadaran untuk menghindari segala bentuk praktik korupsi. Sebagai sebuah bentuk kampanye anti korupsi, masing-masing film ini dikemas untuk bisa dipahami penonton dari berbagai kalangan usia dan latar budaya. Ceritanyapun menggambarkan keseharian di mana atau kapan saatnya virus korupsi bisa mulai menelusup ke dalam kehidupan seseorang. Misalnya dalam film Selamat Siang Risa! Tora berperan sebagai Kepala Gudang yang jujur dan tidak tergiur uang suap dari penimbun beras meski keluarganya hidup kekurangan dan butuh uang untuk berobat anaknya. Sementara itu duet Revalina S. Temat dan Nicholas Saputra dalam film yang berjudul Aku Padamu memerankan sepasang kekasih yang ingin menikah diam-diam, tanpa restu dari orangtua mereka. Namun, karena si perempuan tak membawa Kartu Keluarga (KK), si pria berniat menyogok petugas KUA. Si perempuan menolaknya karena teringat nasib guru honorer di SD-nya yang tak diangkat tetap karena tidak mau memberi uang sogokan kepada ayah si perempuan itu.

Tidak kalah menarik film berjudul Rumah Perkara yang bercerita tentang seorang lurah yang ketika berkampanye menjanjikan kesejahteraan dan mengutamakan kepentingan rakyat, tapi, ketika sudah terpilih justru melupakan janjinya dan berpihak kepada pengembang. Janda desa jadi korbannya. Karena menolak pindah dari rumahnya, janda itu sekaligus rumahnya dibakar. Ironisnya, anak kandung lurah justru tak sengaja ikut jadi korban kebakaran. Dan yang terakhir Film berjudul Psssttt… Jangan Bilang Siapa-siapa mengangkat kehidupan anak-anak SMA yang justru mendapat pelajaran korupsi dari orangtua dan guru mereka sendiri. Bukannya risih, mereka malah merasa bangga bisa mendapat barang dan jajan dari uang hasil korupsi.

Tentu saja efek yang diharapkan setelah menonton film-film ini adalah publik bisa melihat potret kedekatan dirinya dengan asal muasal korupsi dan bagaimana kemudian kita sendiri bisa menghentikan mata rantai korupsi sebelum praktik korupsi mewabah. Meskipun film ini sangat layak ditonton oleh semua kalangan untuk mengetahui dampak dari korupsi yang kini semakin masif, sayangnya film ini bukanlah film komersial mengingat seluruh artis dan pendukung film ini tidak dibayar. Selain diputar dalam roadshow di 17 kota besar di Indonesia, “Kita versus Korupsi” nantinya akan diputar di sekolah-sekolah, kampus, televisi lokal dan festival film. Namun jangan khawatir, siapapun yang ingin memutar film ini untuk kepentingan pendidikan dapat menghubungi KPK atau Transparency International Indonesia. (Irvan Hq) ***

(dari berbagai sumber)

Permohonan pemutaran film ini dapat dilakukan dengan menghubungi:

Transparency International Indonesia
Anti Corruption Information Centre (ACIC)
Jl. Senayan Bawah No.17, Jakarta Selatan, Indonesia
Telp: 021-7208515, 7236004, 7267807, 7267827
Fax: 021-7267815
Email: clubindonesiabersih@gmail.com atau acic@ti.or.id
Web: www.indonesiabersih.org atau www.ti.or.id

Contact Person:
Agus Sarwono (Community and Outreach Officer)
Hp. 0812 6992 667 Email: asarwono@ti.or.id
Nur Fajrin (Communication Officer)
Hp. 0815 5556 911 Email: nfajrin@ti.or.id

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »