LADY GAGA VS AZIS GAGAP

16.41


Popularitas Lady Gaga di dapat setelah merilis album pertamanya di tahun 2008, ia sukses mencapai tangga nomor satu di enam negara dan sepuluh besar di seluruh dunia. Album-album berikutnya membuat Lady Gaga semakin di kenal diseluruh dunia termasuk Indonesia, bahkan dalam salah satu albumnya ada yang mencapai penjualan single tercepat dalam sejarah yaitu terjual satu juta kopi dalam lima hari. Begitu juga dengan Azis Gagap, meski baru sebatas di Indonesia saja, sejak 2008 karir Azis pun mulai menanjak dengan melawak dalam OVJ (Opera Van Java) bersama Parto, Sule, Andre Taulany dan Nunung. 

Oleh: Irvan Hq

Kontribusi perempuan bernama asli Stefani Joanne Angelina Germannota terhadap industri  musik tidak dapat dianggap enteng, berbagai prestasi telah diraihnya termasuk lima Grammy Awards, dua Guinnes World Records, Artis Terbaik tahun 2010 dari Billboard, termasuk ke dalam 100 orang paling berpengaruh di dunia versi Majalah Times dan mencapai nomor satu dalam daftar 100 selebriti berkuasa versi Majalah Forbes. Begitu juga kontribusi laki-laki bernama asli Muhammad Azis, siapa yang tidak tahu artis yang satu ini, seorang pelawak yang khas dengan omongan gagapnya ini hampir setiap hari muncul di layar kaca. Banyolan khasnya membuat OVJ memiliki rating acara televisi yang tinggi. Beberapa film juga pernah ia bintangi seperti Pocong Ngesot, Kuntilanak Kesurupan, Kepergok Pocong, Pocong Kesetanan dan Kafan Sundel Bolong. Sedangkan beberapa acara TV yang pernah ia isi seperti Beauty and Azis, Derings, The Promotor, Rekreasi Azis Nunung, dll. 

Kedermawanan Lady Gaga yang lahir di New York, Amerika Serikat pada tanggal 28 Maret 1986 cukup memberikan kontribusi untuk berbagai kegiatan amal dan karya kemanusiaan. Lady Gaga menggelar konser untuk memberikan dana bantuan rekonstruksi Gempa Haiti 2010, pada hari yang sama semua keuntungan dari penjualan produk di toko online Gaga juga disumbangkan. Ia juga bekerjasama merancang gelang dan menyumbangkan semua hasil penjualannya kepada Jepang yang terkena gempa bumi dan tsunami tohoku pada 11 Maret 2011. Gaga juga memberikan kontribusi dalam perang melawan HIV dan AIDS dengan fokus pada mendidik perempuan muda tentang risiko penyakit. Bagaimana dengan Azis Gagap? Komedian yang mengawali karir melawaknya melalui panggung lenong dari satu kelurahan ke kelurahan lainnya ini ternyata juga seorang yang dermawan dan sangat peka terhadap masalah sosial. hal demikian dibuktikan dengan keterlibatan dan aktivitas sosialnya dengan mendirikan sebuah pesantren bernama "Padepokan Aziziyah" di Bogor. Sebuah tempat belajar yang diperuntukkan bagi anak-anak yang kurang beruntung secara ekonomi, di padepokan yang saat ini sedang dibangun ini siswa dan siswinya di bebaskan dari biaya.

Ada dua hal yang membuat saya tertarik untuk menulis catatan ini. Yang pertama Pro-Kontra rencana Konser Lady Gaga bertajuk “The Born This Way Ball” di Gelora Bung Karno, Senayan pada 3 Juni 2012 ini terancam tidak berijin karena di anggap lebih porno dibandingkan Konser Dangdut Pesisiran. Seperti biasa aksi penolakan itu kemudian berkembang dan semakin banyak yang mengurusi, berbagai kalangan angkat bicara seolah-olah yang paling tahu dan paling berhak menghakimi kesalahan seseorang. Terlebih lagi para politisi sudah pasti menjadikan moment ini sebagai makanan empuk untuk mendapatkan popularitas. Bagaimana anggota dewan bisa bicara tentang porno aksi sementara masih ada temannya yang memproduksi video mesum, bagaimana pemuka agama bicara erotisme sementara masih ada ustad yang berlomba-lomba menikahi selebritis seksi bahkan bersedia dijodohkan dengan perempuan seperti Julia Perez?   Alasan penolakan pun kemudian berkembang tidak hanya pada penampilannya saja yang dianggap seronok, tetapi sejumlah Kontroversi Lady Gaga kemudian dimunculkan mulai dari dirinya yang dianggap anti Kristen, penganut biseksual, ekstrim, lagunya dianggap menyarakan lesbian, homo, dsb. 

Yang kedua adalah sosok Azis yang sebenarnya normal saja kemudian populer dengan gaya gagapnya itu, di mana aliran bicara terganggu dan tanpa disadari terjadi pengulangan dan pemanjangan suara dan suku kata dengan jeda yang tidak teratur. Itulah gambaran pemerintah Indonesia. Mereka mendadak gagap ketika  rencana Konser ini menuai pro dan kontra. Maksud saya kalau memang akan melarang konser Lady Gaga di Indonesia, lakukan sejak awal, tunjukkan sikap tegas bahwa pemerintah memang Menolak dan Melarang konser tersebut. Jangan kemudian menjadi gagap menghadapi masalah ini, membiarkan Dinas Pariwisata  memberikan izin impresariat, membiarkan pihak kepolisian memberikan izin keramaian bahkan melakukan pengawalan keamanan untuk menjual tiket konser baik melalui loket maupun online, tetapi disisi lain Polda Metro Jaya tidak memberi rekomendasi untuk izin penyelenggaraan konser Lady Gaga, sedangkan Kementrian Agama hanya sebatas menyarankan saja untuk menolak konser tersebut. 

Pemerintah kembali menjadi gagap menghadapi situasi ini, sepertinya mereka sedikit bingung untuk menjelaskan kepada pihak kedutaan Amerika Serikat seandainya ditanya kenapa Negara Indonesia yang selama ini dianggap sebagai Negara yang memiliki toleransi yang tinggi tiba-tiba saja menolak konser Lady Gaga. Atau pemerintah menjadi gagap menanggapi pro-kontra yang berkembang luas di tanah air, kecaman-kecaman, tentangan, opini negatif sampai kemungkinan terjadinya bentrok fisik. Dengn gagap kemudian Polda Metro Jaya memberikan tiga syarat tambahan yang sebelumnya tidak pernah ada yaitu izin dari Kemendagri, Kementrian Agama dan Kementrian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif. Belum lagi permintaan jaminan kesediaan Lady Gaga berpakaian sopan dan tidak membawakan tiga lagu yang dianggap kontroversial.

Melihat berlarut-larutnya persoalan Lady Gaga menimbulkan pertanyaan apa sesungguhnya yang menjadi penghalang bagi Lady Gaga untuk tampil di Indonesia, kalau soal penampilan, aksi Katy Perry di atas panggung yang mencium anak muda Indonesia yang bertelanjang dada atau yang saya sebut tadi dangdut pesisiran yang erotisnya lebih parah dan ditonton oleh anak-anak kecil lantas tidak ada yang mempersoalkannya seheboh Lady Gaga?

Mungkin bagi Lady Gaga, tidak terlalu menjadi masalah membatalkan konsernya di Indonesia seperti yang dilakukannya hari ini, masih lebih sopan mereka beralasan soal keamanan dibanding Justin Bieber yang menyebut Negara kita tidak penting. Semoga saja pemerintah bisa mengambil hikmahnya untuk lebih tegas dari awal dalam menyikapi hal-hal seperti ini, kalau melarang lakukan sejak awal sehingga tidak mengecewakan puluhan ribu masyarakat kita yang sudah capek-capek mengantri untuk membeli tiket dan menunggu tiga tahun untuk dapat menyaksikan secara langsung Konser Lady Gaga. 

Buu… kaa.. an..  beegiii… tttu.. pa.. pak?

(dari berbagai sumber)

Foto: sibukforever.blogspot.com

MENJARING BAKAT KAUM MUDA DI IM3 MOBILE ACADEMY

12.47


Cilegon (25/5) – Sejak diluncurkan pada tahun 2008, program IM3 Mobile Academy (MobAc) telah berhasil menghimpun ratusan anak-anak muda bertalenta di seluruh Indonesia. Dalam tiap sesinya, para peserta terpilih diberikan pengalaman, pengetahuan, sekaligus berkesempatan bertemu dengan artis-artis idola. Dan tentu saja pengalaman berlibur yang tak akan pernah dilupakan. Tahun 2012 ini, PT Indosat kembali akan menggelar MobAc ke 5. Di awali dengan proses penjaringan tingkat sales area, dilanjutkan dengan proses seleksi adu bakat di tingkat regional.

Khusus di sales area Serang-Cilegon, pihak Indosat memusatkan proses seleksi awal di SMA 2 KS Cilegon. Tercatat ada 60 peserta yang mendaftarkan diri. Mereka berasal dari SMA 1 Kota Serang, SMA Kramat Watu, SMA 2 KS, SMA 1 Ciruas. Bakat yang dimiliki para peserta pun beragam, mulai dari solo vocal, acting, modeling, story telling dan olahraga. Aguswan, selaku sales manager area mengungkapkan bahwa yang menjadi kriteria audisi adalah penampilan, kreativitas, komunikasi, unjuk bakat, dan pe­nguasaan terhadap produk Indosat. “Program IM3 Mobile Academy ini kami rasa sangat efektif karena itulah masih digelar tahun ini. Di samping untuk memotivasi siswa berkompetisi pada hal positif juga semakin mengasah pengetahuan mereka terhadap pengguaan produk seluler yang kami sediakan. Ini menurut kami, cukup mendidik karena bersifat juga kompetisi kecerdasan para siswa,” tutur Aguswan.

Manfaat kegiatan tersebut, dirasakan oleh Sheilladelia Shavira, finalis ke 5 queen Mobac 2011. Baginya, Mobac telah membuka matanya terhadap dunia luar yang menyuguhkan realita dan harapan dalam menjalani hidup. “Bakat anak muda Banten tidak kalah dengan daerah lain, semuanya berkesempatan untuk berprestasi”. Tuturnya dengan penuh antusias.

Sementara itu, para peserta pun nampak antusias dengan program tersebut, seperti yang diungkapkan Yellania Anggraeni, siswi kelas 11 ini mengaku bahwa dirinya ingin memanfaatkan ajang Mobac tersebut sebaik-baiknya. “Saya ingin menambah pengalaman, sekaligus mengasah bakat saya di dunia modeling” Ujarnya.

Proses Panjang RIPKD dan Ekspektasi Budayawan

01.38

Kabar baik itu datang di penghujung tahun 2011, di saat Dinas Budaya dan Pariwisata (Disbudpar) Provinsi Banten menginisiasi pelaksanaan Focus Group Discussion (FGD) tentang penyusunan naskah akademik kebudayaan Banten. Seperti sudah diketahui bersama, FGD merupakan sebuah metode kualitatif, yang bertujuan untuk memperoleh informasi mendalam tentang konsep, persepsi dan gagasan dari suatu kelompok/masyarakat. Kabar baik, dikarenakan dengan praktek FGD kebudayaan, ditargetkan akan bisa menjaring informasi yang komprehensif dari para pelaku budaya seputaran budaya Banten yang perlu dilestarikan. Kabar baik, karena  kegiatan tersebut bisa dijadikan masukan awal dalam menyusun rencana strategis (renstra) dan rencana kerja (renja) dinas-dinas terkait, termasuk untuk kepentingan penyusunan Rencana Induk Pelestarian Kebudayaan Daerah (RIPKD) Provinsi Banten.

            Oleh : Mahdiduri


Pada 30 November 2011, FGD pertama dilaksanakan di kantor Bapeda Provinsi Banten, diikuti oleh 40 peserta dari beberapa lembaga. Dalam kesempatan itu yang menjadi narasumber adalah Supratikno Rahardjo dari Universitas Indonesia. Dalam pemaparannya, Supratikno menegaskan bahwa kebijakan pembangunan kebudayaan daerah hendaknya mengacu pada tiga landasan pokok. Pertama, pembangunan kebudayaan harus ditangani dengan prinsip-prinsip manajemen (perencanaan, pelaksanaan, pengendalian, monitoring serta evaluasi). Kedua, kegiatan manajemen kebudayaan adalah tindakan yang sah (legitimate). Ketiga, kehidupan kebudayaan tidak hanya menjadi tanggung jawab masyarakat pendukungnya, tetapi juga tanggung jawab yang diberikan warganya kepada pemerintah melalui kebijakan-kebijakan dan usaha-usaha khusus. Terutama dalam rangka percepatan pengembangan secara sistematis sesuai dengan cita-cita bangsa. Selain itu, dia juga memandang perlu kesadaraan dari tiap pelaku budaya dan pemangku kebijakan untuk bersama-sama mencermati urgensi cetak biru pelesetarian kebudayaan. Yakni, bahwa kebijakan kebudayaan dapat dijadikan pedoman bagi upaya pengembangan kebudayaan. Juga dapat dijadikan sebagai sumber rujukan untuk menilai apakah tatanan masyarakat baru nanti berjalan pada arah yang tepat atau salah. Selain itu, kebijakan kebudayaan bisa dijadikan instrument untuk memberikan sumbangan bagi tatanan masyarakat Indonesia baru sebagaimana diamanatkan dalam UUD, Pancasila, TAP MPR 2000 dan visi pembangunan Indonesia 2025.
            Dalam tiap sesinya, Disbudpar menargetkan sekitar 50 orang sebagai peserta aktif, mulai dari ahli bahasa daerah, sejarawan, seniman, akademisi, sampai pemerhati budaya. Dan dari pengamatan saya, tiap sesinya selalu bertambah melebihi kuota. Hal ini mengindikasikan bahwasanya antusiasme pastisipatif pelaku budaya sangat tinggi. Seperti yang terjadi pada FDG ke dua di warung makan sate bebek di Jl, Bhayangkara, pada 12 Desember 2011. Dalam sesi tersebut, tercatat 60 orang hadir sebagai peserta aktif, dan mereka semua berkesempatan untuk menguak kegelisahan selama ini dalam menghidupi kebudayaan.
            Seperti yang disampaikan oleh beberapa peserta dalam hasil rumusan yang dilansir panitia. Gebar Sasmita menilik tentang pentingnya inventarisasi kebudayaan Banten, baik itu komunitasnya ataupun produknya. Sementara Yadi Ahyadi mengupas tentang upaya kajian kebudayaan Banten yang sudah ada, namun hasilnya tidak pernah sampai ke tangan masyarakat.
            Lain lagi dengan Qibro Pandam yang mengkritisi soal ikonisasi lewat warna. Dia berkeinginan agar Banten berani memunculkan warna sebagai identitas daerah dengan merujuk pada warna masyarakat Baduy. Begitu pula yang disampaikan oleh Wowok Hesti Prabowo, dia menilai lucu jika Banten sebagai salah satu wilayah yang memiliki kebudayaan sangat tua di Indonesia belum memiliki peraturan kebudayaan. Bahkan dia mencermati jika modal pembangunan Banten bertumpu pada kebudayaannya. Kebudayaan Banten sejajar dengan Bali, Yogya atau pun Solo.
            Pada FGD sesi dua yang digelar pada 12 Desember 2012, pembahasan materi belum beranjak dari sesi 1, hanya ada sedikit penambahan informasi atau data baru. Kondisi demikian berlanjut dalam sesi 3 yang digelar pada 20 Desember 2012. Sebuah kondisi yang bagi saya lebih mirip De Javu. Saya merasa, hal itu terjadi bukan karena konsep FGD yang dibiarkan cair begitu saja, tetapi lebih karena peserta tidak dibekali data pendukung oleh tim fasilitator. Pernah saya sebagai peserta meminta agar tiap peserta diberikan Standar Pelayanan Minimal bidang seni/budaya. Tapi apa lacur, entah karena dirasa belum pas waktunya atau apa, akhirnya sampai pelaksanaan FGD Sesi 4 pada 23 Desember 2012 dokumen yang diminta urung dibagikan.
            Bertempat di museum Banten Lama, FGD sesi 4 pun dilanjutkan. Di sana, para peserta sudah dibagi per bidang kebudayaan mengacu pada tujuh unsur kebudayaan Koentjaraningrat. Pada saatnya, tiap bidang berdiskusi mengidentifikasi kebudayaan Banten sampai menentukan arah penanganannya. Diskusi yang di rasa paling alot terjadi di bidang kesenian, mereka beradu argumen membicarakan soal program apa saja yang mesti dilaksanakan oleh pemerintah. Sampai akhirnya, para peserta dipertemukan kembali bersama untuk memberikan pandangan per bidang di depan peserta lainnya.
            Nampaknya tahun 2012 ini pun, Disbudpar ingin menegaskan keseriusannya dalam mengusung program penyusunan draft naskah akademik RIPKD. Di tahun naga air ini, rencananya FGD Kebudayaan akan dilanjutkan kembali sebanyak 4 kali. Tentu saja ini patut disyukuri, mengingat di periode ke belakang, para pelaku seni dan budaya tidak pernah dilibatkan (bercermin pada penyusunan naskah akademik tahun 2008). Seperti halnya tahun kemarin, sekarang pun bisa dipastikan para seniman dan budayawan memiliki ekspektasi berlebih akan terbangunnya kondisi berkebudayaan yang menggairahkan. Adanya sebuah kesepahaman antara pemerintah dengan stakeholder kebudayaan dalam bentuk aturan main yang baku (baca; perda) tentang tugas dan fungsi pokok serta hak pemerintah dan masyarakat dalam mewujudkan Banten berbudaya.
            Loka karya adalah kegiatan finalisasi hasil FGD yang nantinya akan dijadikan acuan dalam membuat naskah akademik RIPKD, setidaknya itulah yang diskenariokan oleh Disbudpar Banten.

RIPKD, Renstra dan Renja Dinas

            Belum lama ini, penulis berkesempatan mengikuti forum penyusunan Rencana Strategis (Renstra) 2013- 2017 dan Rencana Kerja (Renja) 2013 Disbudpar. Tepatnya pada 17-18 April 2012. Dalam acara tersebut, disbudpar mengundang beberapa stakeholder di sektor pariwisata dan kebudayaan, diantaranya PHRI, ASITA, HPI, APPI, Dewan Kesenian seluruh Banten, Pasentra, Pepadi dan beberapa seniman/budayawan.
            Dalam forum itu sendiri, ada beberapa isu utama yang mencuat terkait tata kelola pemerintahan.
Pertama, dalam dokumen RPJMD 2012, pemerintah menempatkan kebudayaan sebagai salah satu program prioritas pembangunan. Adapun isinya sebagai berikut - Pengembangan seni dan budaya di Banten melalui pembangunan gedung-gedung kesenian bertaraf internasional, serta mematenkan kesenian khas Banten yang dilaksanakan melalui revitalisasi sarana dan prasarana kesenian Banten dan mengupayakan pematenan kesenian khas Banten –
            Di satu sisi, peneraan kalimat gedung-gedung kesenian bertaraf internasional menumbuhkan harapan akan terwujudnya apa yang sudah menjadi program prioritas pemerintah tersebut dalam lima tahun ke depan. Di sisi lain, ada pandangan skeptis kalau yang diterakan di atas hanya berupa wacana politis saja. Hal ini beralasan, karena sampai saat ini, jangankan memiliki banyak gedung kesenian, satu gedung kesenian saja belumlah terbangun. Terlepas dari itu semua, satu realita bahwa sampai kapanpun, para seniman/budayawan Banten akan tetap bergerak untuk menyuarakan agar Banten memiliki gedung kesenian yang betul-betul bertaraf internasional.
            Kedua, peranan Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) dalam meloloskan kegiatan serta anggaran kebudayaan sangatlah tidak berpihak. Sudah jadi rahasia umum, angaran kebudayaan sejak awal Banten berdiri sampai sekarang masih sangat sedikit. Program kegiatanpun banyak yang dipangkas, terlebih tahun ini, anggaran Disbudpar sendiri mengalami penyusutan sebesar 700 juta (13.9M > 13.4 M) Penyebabnya adalah hal sepele, bahwa Bappeda memahami kebudayaan masih parsial, serta Bappeda belum menemukan cantolan hukumnya. Seperti yang diakui oleh Babar Suharso selaku kabid PPAP dalam pemaparannya di forum Renstra tersebut, dia mengatakan bahwa baru tahun ini, pihaknya mendapatkan Permenbudpar No.PM.106/HK.501/MKP/2010 tentang Standar Pelayanan Minimal (SPM) bidang Kesenian.
            Bagi penulis, apa yang diakui Babar tersebut sungguh mengenaskan dikarenakan nampaknya pihaknya memahami kebudayaan hanya sekadar cemilan yang tidak mengenyangkan. Pun hal itu merugikan, karena sejak diterbitkannya permenbudpar tersebut, beragam kegiatan revitalisasi nilai budaya harusnya sudah berjalan secara optimal, tapi terhambat hanya karena Bappeda belum memegang SPM bidang kesenian.
            Ketiga, penyusunan Raperda Pelestarian Kebudayaan yang mesti dipercepat. RIPKD adalah muara pergerakan seniman/budayawan selama ini, karena dengan diterbitkannya RIPKD nanti, ada aturan main jelas perihal tata kebudayaan dalam bahasa hukum yang sifatnya mengikat. Maka, dalam forum Renstra kemarin, para seniman seluruhnya mengusung agar RIPKD menjadi kegiatan Disbudpar pada 2013.
             
***
            Tentu saja, dalam memahami kebudayaan, kita tidak bisa hanya menempatkan kesenian sebagai simbol utamanya. Kebudayaan jauh lebih luas daripada sekedar ragam pertunjukan, kebudayaan mencakup nilai-nilai yang dipegang/hidup di masyarakat. Slogan Banten Berbudaya, bukan hanya soal kesenian yang berkembang pesat atau tingkat apresiasi masyarakatnya yang tinggi. Kebudayaan menyoal bagaimana kita memberdayakan diri dalam membangun peradaban.
            Tetapi, tidak bisa dinafikkan bahwa ada konvensi bersama yang menyatakan bahwa untuk menakar suatu daerah berbudaya atau tidaknya, tergantung dari kebudayaan fisik yang tercipta dan berkembang. Atas pemikiran itulah, para seniman/budayawan Banten tengah berjibaku memetakan sekaligus memunculkan perlambang-perlambang yang akan menjadi teturus atas kebudayaan Banten. Gedung Kesenian (taman budaya), institusi pendidikan kesenian, RIPKD hanyalah sebagian kecil dari perlambang yang hendak disematkan. Masih ada ribuan perlambang yang mesti kita sepakati dan hadirkan bersama, agar Banten tidak kehilangan jati dirinya sebagai satu bangsa besar.

Menuju Banten Berbudaya!



Raksa Budaya Perkenalkan Tari Walijamaalih

01.35
Menjaga konsistensi komunitas dalam rentang waktu yang panjang tentunya tidaklah mudah, ada proses duka dan suka yang menemaninya. Seperti yang telah dilalui sekaligus dibuktikan oleh sanggar tari Raksa Budaya (RB). Sejak didirikan pada Januari 1986 di Serang, proses awalnya juga harus dilalui secara perih, namun kini, setelah 35 tahun bekerja keras, Maya Rani Wulan dan kawan-kawan telah mengecap hasil dari perjuangannya selama ini.

Saat ini, Raksa Budaya telah memiliki sebuah ruang latihan (indoor/outdoor) yang cukup luas di daerah Ciracas, tepatnya di Jl. Kenanga No.6 Ciracas Serang. Diawal pendiriannya, Raksa Budaya sendiri ditujukan sebagai wadah pembinaan seni budaya banten, dan direalisasikan dalam beragam upaya pembinaan, seperti pelatihan tari untuk beragam tingkatan usia, penciptaan karya tari kreasi tradisi, resital tari, dan pagelaran rutin.

Menjadi sanggar tari professional dan terdepan merupakan impian para pendirinya, dan nampaknya jalan itu sudah diretas dengan beragam prestasi yang diraih, beberapa diantaranya dengan terlibat di pelbagai event internasional seperti: Iga Rostock (Jerman), Bourdeux-Nantes-Prancis dan Festival Tari Melayu Nusantara di Sumsel. Selain itu, mereka juga sudah berhasil menciptakan beberapa tarian kreasi kebantenan, diantaranya Banten Katuran, Grebeg Terbang Gede, Maler Bedug, Gitek Cokek, Bedug Warnane, Gitek Ganjen, serta Ngebaksakeun.

Tari Walijamaalih

Pada 5 November 2010, beberapa pemimpin sanggar tari berkumpul mencurahkan pikirannya dalam membuat sebuah karya tari kreasi. Alhasil, dari pertemuan itu terciptalah sebuah tarian bernama Walijamaalih. Tarian ini diciptakan atas prakarsa gubernur Banten, Hj. Ratu Atut Chosiyah dan Egy Djanuiswaty sebagai visualisasi perkenalan daerah Banten yang sarat daya tarik dengan potensi alam yang berlimpah dan memiliki nilai sejarah tinggi, serta budaya masyarakat yang religius.

Dalam penciptaannya, tarian ini terdiri dari 20 alur gerak yang diadopsi dari gerak-gerak tari sunda serta kembang dari jurus silat terumbu serta bandrong. Kendang, goong patingtung, calung renteng dan angklung menjadi pembentuk musikalitas latar tari ini untuk memberikan aksentuasi garapan. Rohaendi, Maya Rani Wulan, Eka Agusdini, Nurhidayat, Sukemi, Muhammad Shaleh, Wawan Widarana, Wisnu Kuncoro, Dadie Rsn dan Tb. Sirodjudin adalah segenap pihak yang mengelaborasi penciptaan tarian penyambutan tamu agung ini.

Saat ini, segenap pihak yang terlibat, terus berupaya untuk mensosialisasikan tarian ini agar bisa berkembang di masyarakat secara luas. Begitupun yang dilakukan Maya Rani Wulan dkk, mereka berjibaku tak kenal lelah menggaungkan tarian ini sebagai sebuah kebanggan Banten. ***

KITA VS KORUPSI

01.34


Praktik korupsi sudah menjadi budaya dalam kehidupan kita sehari-hari. Didepan mata praktik  korupsi kerap terjadi mulai oknum pegawai dari yang rendah sampai level yang tertinggi, oknum kepala sekolah, oknum kepala desa, oknum polisi dan oknum para penegak hukum lainnya serta tentu saja oknum para pejabat dinegeri ini. Mereka semua seolah sudah terbiasa dengan proses penyuapan berjumlah puluhan ribu rupiah sampai pada kasus penyelewengan uang negara berjumlah triliunan rupiah. Saking membudayanya, praktek korupsi meluas di semua segi kehidupan, mark up, berbohong, menyontek di sekolah, datang terlambat, memberi hadiah sebagai pelicin dan sebagainya. Dalam kamus bahasa Indonesia Korupsi berarti penyelewengan atau penyalahgunaan uang negara untuk kepentingan pribadi atau orang lain. Secara harafiah, Ensiklopedia bebas Wikipedia menerangkan bahwa korupsi adalah perilaku pejabat publik, baik politikus/politisi maupun pegawai negeri, yang secara tidak wajar dan tidak legal memperkaya diri atau memperkaya mereka yang dekat dengannya, dengan menyalahgunakan kekuasaan publik yang dipercayakan kepada mereka.

Melihat kenyataan ini Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mencoba menumbuhkan budaya antikorupsi dengan berbagai cara, salah satu diantaranya adalah melalui pendekatan media film. Bekerja sama dengan Transparency International Indonesia (TI-Indonesia), United State Agency International Development (USAID) dan Indonesia Corruption Watch (ICW), KPK membuat film yang berjudul “Kita versus Korupsi”. Film berdurasi sekitar satu setengah jam ini terdiri dari gabungan empat film pendek yang berjudul “Rumah Perkara” karya Emil Heradi, “Aku Padamu” karya Lasya F Susatyo, “Selamat Siang, Risa!” karya Ine Ferbriyanti, dan “Psttt..Jangan Bilang Siapa-siapa” karya Chairun Nissa. Tak main-main, film ini dibintangi sederet aktris berbakat diantaranya Nicholas Saputra, Revalina S Temat, Tora Sudiro, Agus Ringgo serta Teuku Rifnu Wikana.

Film ini bertujuan mengedukasi masyarakat luas agar tumbuh kesadaran untuk menghindari segala bentuk praktik korupsi. Sebagai sebuah bentuk kampanye anti korupsi, masing-masing film ini dikemas untuk bisa dipahami penonton dari berbagai kalangan usia dan latar budaya. Ceritanyapun menggambarkan keseharian di mana atau kapan saatnya virus korupsi bisa mulai menelusup ke dalam kehidupan seseorang. Misalnya dalam film Selamat Siang Risa! Tora berperan sebagai Kepala Gudang yang jujur dan tidak tergiur uang suap dari penimbun beras meski keluarganya hidup kekurangan dan butuh uang untuk berobat anaknya. Sementara itu duet Revalina S. Temat dan Nicholas Saputra dalam film yang berjudul Aku Padamu memerankan sepasang kekasih yang ingin menikah diam-diam, tanpa restu dari orangtua mereka. Namun, karena si perempuan tak membawa Kartu Keluarga (KK), si pria berniat menyogok petugas KUA. Si perempuan menolaknya karena teringat nasib guru honorer di SD-nya yang tak diangkat tetap karena tidak mau memberi uang sogokan kepada ayah si perempuan itu.

Tidak kalah menarik film berjudul Rumah Perkara yang bercerita tentang seorang lurah yang ketika berkampanye menjanjikan kesejahteraan dan mengutamakan kepentingan rakyat, tapi, ketika sudah terpilih justru melupakan janjinya dan berpihak kepada pengembang. Janda desa jadi korbannya. Karena menolak pindah dari rumahnya, janda itu sekaligus rumahnya dibakar. Ironisnya, anak kandung lurah justru tak sengaja ikut jadi korban kebakaran. Dan yang terakhir Film berjudul Psssttt… Jangan Bilang Siapa-siapa mengangkat kehidupan anak-anak SMA yang justru mendapat pelajaran korupsi dari orangtua dan guru mereka sendiri. Bukannya risih, mereka malah merasa bangga bisa mendapat barang dan jajan dari uang hasil korupsi.

Tentu saja efek yang diharapkan setelah menonton film-film ini adalah publik bisa melihat potret kedekatan dirinya dengan asal muasal korupsi dan bagaimana kemudian kita sendiri bisa menghentikan mata rantai korupsi sebelum praktik korupsi mewabah. Meskipun film ini sangat layak ditonton oleh semua kalangan untuk mengetahui dampak dari korupsi yang kini semakin masif, sayangnya film ini bukanlah film komersial mengingat seluruh artis dan pendukung film ini tidak dibayar. Selain diputar dalam roadshow di 17 kota besar di Indonesia, “Kita versus Korupsi” nantinya akan diputar di sekolah-sekolah, kampus, televisi lokal dan festival film. Namun jangan khawatir, siapapun yang ingin memutar film ini untuk kepentingan pendidikan dapat menghubungi KPK atau Transparency International Indonesia. (Irvan Hq) ***

(dari berbagai sumber)

Permohonan pemutaran film ini dapat dilakukan dengan menghubungi:

Transparency International Indonesia
Anti Corruption Information Centre (ACIC)
Jl. Senayan Bawah No.17, Jakarta Selatan, Indonesia
Telp: 021-7208515, 7236004, 7267807, 7267827
Fax: 021-7267815
Email: clubindonesiabersih@gmail.com atau acic@ti.or.id
Web: www.indonesiabersih.org atau www.ti.or.id

Contact Person:
Agus Sarwono (Community and Outreach Officer)
Hp. 0812 6992 667 Email: asarwono@ti.or.id
Nur Fajrin (Communication Officer)
Hp. 0815 5556 911 Email: nfajrin@ti.or.id

Budaya Mengkonsumsi Junk Food

01.32


Siapa diantara sobat Bi-eM yang senang makan gorengan? Burger? Pizza? Atau minum minuman bersoda? Belakangan ini, disadari atau tidak kebiasaan masyarakat akan konsumsi junk food sudah semakin meluas. Hal ini bisa dibuktikan dengan semakin banyaknya waralaba yang menyajikan aneka jenis junk food dari makanan hingga minuman di berbagai tempat. Sebenarnya, apa sih ‘Junk Food’ itu? Berdasarkan beberapa sumber yang didapat, junk food adalah istilah yang diberikan pada makanan dan minuman yang mengandung tinggi kalori (energi), garam, gula dan lemak namun rendah akan kandungan vitamin, mineral dan serat.  Cita rasa dari junk food yang gurih dan membuat ketagihan sangat digemari banyak orang. Dan dengan cita rasa seperti ini, junk food berhasil menjadi makanan primadona terutama dikalangan remaja.

Oleh : Samsiyah

Meskipun demikian, mengonsumsi junk food bukanlah pilihan yang harus selalu kita turuti. Karena kandungannya yang tinggi kalori, garam, gula dan lemak, junk food menjadi salah satu panganan yang harus diwaspadai. Menurut WHO (World Health Organization / Organisasi Kesehatan Dunia), ada sepuluh jenis makanan yang digolongkan ke dalam junk food, yaitu: gorengan, makanan kalengan, asinan, daging yang diproses (ham, sosis, dll), makanan dari daging berlemak dan jerohan, olahan keju, mi instant, makanan yang dipanggang/dibakar, sajian manis beku, dan manisan kering.

Sebagai informasi sekaligus untuk mengingatkan kembali, tubuh manusia membutuhkan berbagai jenis zat gizi yang terdapat pada berbagai jenis makanan. Itulah alasan mengapa seseorang perlu mengonsumsi berbagai jenis makanan dalam satu hari. Namun pada junk food, zat gizi yang ada tidak beragam dan cenderung melebihi angka kecukupan gizi yang dibutuhkan tubuh. Dan seperti yang pernah dibahas sebelum ini, zat gizi yang berlebihan tidak baik untuk kesehatan. Lalu zat gizi apa saja yang terdapat dalam junk food? Apa resikonya jika zat gizi tersebut dikonsumsi secara berlebihan? Mari kita berkenalan lebih dekat dengan junk food J

1.      Sodium
Sumber utama dari sodium adalah garam dapur. Dalam sehari, tubuh orang dewasa membutuhkan sekitar 500 mg. Fungsi sodium sendiri ialah untuk menjaga keseimbangan cairan di dalam dan si luar sel tubuh. Kelebihan sodium awalnya akan di toleransi oleh tubuh. Namun jika kelebihan sodium berlangsung secara terus-menerus, proses toleransi yang dilakukan oleh tubuh akan mengakibatkan hipertensi. Hipertensi sendiri merupakan pemicu terjadinya penyakit stroke dan jantung. Contoh makanan yang mengandung tinggi natrium adalah makanan kaleng, asinan, daging olahan, mie instan, manisan kering, dll. Untuk mengimbangi konsumsi sodium yang berlebihan, dianjurkan minum air putih agar konsentrasi sodium dalam sel kembali normal dan terhindar dari hipertensi. Hanya saja konsumsi air putih ini menimbulkan resiko terjadinya edema (sel membengkak).

2.      Gula
Gula merupakan bagian dari karbohidrat sederhana. Fungsi dari gula adalah sebagai sumber energi atau penyedia tenaga bagi tubuh. Kelebihan gula di dalam tubuh akan diubah menjadi lemak di hati, kemudain lemak ini akan dibawa ke sel-sel lemak yang ada di tubuh hingga jumlah yang tak terbatas. Oleh karena itu, konsumsi berlebihan akan gula dapat mengakibatkan seseorang menjadi gemuk. Tidak jauh berbeda dengan hipertensi, kegemukan juga dapat memicu terjadinya penyakit lain seperti stroke, jantung, diabetes mellitus (penyakit gula atau lebih dikenal dengan kencing manis), dll. Contoh makanan yang mengandung banyak gula adalah makanan kaleng, olahan keju, sajian beku seperti ice cream dan cake beku. Selain makanan, minuman seperti minuman bersoda juga mengandung banyak gula.

3.      Lemak
Secara keseluruhan, ada banyak jenis lemak dengan fungsi yang berbeda-beda. Sedangkan lemak yang dominan terdapat pada junk food adalah jenis lemak jenuh dan kolesterol. Lemak jenuh merupakan jenis lemak turunan yang dapat merangsang pembentukan kolesterol di hati. Sumber lemak jenuh antara lain minyak kelapa dan minyak kelapa sawit, daging berlemak dan jerohan. Kolesterol sendiri merupakan jenis lemak yang dapat disintesis (dibentuk) oleh tubuh. Kolesterol merupakan komponen utama sel otak dan saraf. Selain itu, kolesterol juga bahan pembentuk beberapa hormon dalam tubuh. Walaupun demikian penting, keberadaan kolesterol yang terlalu berlebihan memiliki pengaruh yang buruk terhadap tubuh. Kolesterol yang terlalu banyak berada di dalam darah akan membentuk endapan pada dinding pembuluh darah sehingga akan menyebabkan penyempitan yang dinamakan aterosklerosis. Bila penyempitan ini terjadi pada pembuluh darah jantung, maka dapat menyebabkan penyakit jantung koroner. Karena pada dasarnya tubuh dapat memproduksi kolesterol secara mandiri, maka konsumsi lemak jenuh yang dapat memicu produksi kolesterol dan konsumsi makanan sumber kolesterol seperti daging, ayam, ikan, telur, susu dan keju harus diperhatikan jumlahnya. Sebagai saran penutup, setelah mengonsumsi makanan sumber lemak makanlah serat larut air seperti apel, anggur, wortel. Karena jenis serat larut air dapat menurunkan kadar kolesterol dalam darah.

Nah, itulah beberapa hal mengenai junk food. Sedikit tidak adil rasanya kalo sobat Bi-eM hanya mengetahui efek negatif dari konsumsi junk food. Karena sebenarnya kalori yang tinggi dalam junk food juga bisa menjadi sumber utama energi untuk kita, terlebih lagi rasanya yang ringan dimulut yang dapat membangkitkan selera untuk orang-orang yang sedang tidak nafsu makan. Hanya saja, kembali pada uraian di atas, jangan sampai lupa diri saat makan junk food. Ingat, ayo menjadi cermat dalam memilih makanan, kecermatan kita menentukan kesehatan dan masa depan kita J J J

(dari berbagai sumber)

T O I L E T

01.13

Sobat BieM, bicara Budaya saya kok lebih tertarik menyinggung tentang toilet. Memang terkesan seperti kurang kerjaan dan kelihatan sepele sekali, tapi menurut saya ini penting karena menyangkut Budaya kita terhadap toilet masih kurang baik. Persis lagunya Rinto Harahap berjudul Benci tapi Rindu, toilet merupakan tempat yang tidak disukai sekaligus dirindukan, buktinya tiada hari kita mengunjungi toilet, baik untuk buang air besar, buang air kecil atau sekedar cuci tangan dan mematut diri di depan cermin. Kalau dalam bahasa Inggris toilet disebut juga WC (Water Closet), supaya terdengar lebih berbudaya dalam bahasa Indonesia untuk menyebut toilet digunakan juga istilah Kamar Kecil. Ciri khas toilet di negara kita ini umumnya kalau toilet laki-laki itu banyak tulisan TOTO tertempel disana, sedangkan untuk toilet perempuan bertuliskan INA.. hehehe..

Satu-satunya alasan saya menyinggung soal toilet karena dari sinilah awal dari kesehatan kita ditentukan, kemudian berkembang lebih jauh hingga toilet menjadi cerminan kondisi si pemilik toilet tersebut.  Banyak orang bilang kalau kita ingin mengetahui tingkat kebersihan seseorang, mintalah ijin untuk ke toilet saat kita mengunjungi rumahnya. Di tempat itulah kita bisa mengukur kebersihan orang itu.
Bahkan salah satu bonafiditas perusahaan sangat ditentukan oleh tingkat kenyamanan, kebersihan, aksesbilitas dan higienis toiletnya, apakah airnya lancar, ada sabun, kertas pembersih, pengharum ruangan  dan tentu saja tempat sampah yang memadai.
Uniknya memelihara kebersihan toilet itu tidak semudah menggunakannya, belum tumbuh kesadaran diantara kita untuk bersama-sama menjaganya. Mungkin karena keengganan dan menanganggap hal itu adalah masalah sepele yang tidak perlu diperhatikan sehingga hanya mengandalkan office boy saja untuk membersihkannya. Lebih sadis lagi masih ada yang beranggapan kalau toilet itu tempat membuang kotoran, jadi ya sewajarnya saja kotor, padahal kita tahu semua kotoran itu dapat menjadi sarang penyakit dan menyebar kemana-mana. Belakangan ini banyak kita membaca dikoran-koran mengenai wabah penyakit polio, campak, diare, DBD, dan lain-lain yang disebabkan oleh buruknya kualitas sanitasi lingkungan hidup kita. 
Jadi kalau ingin mengetahui tingkat berbudaya masyarakat Banten mudah sekali caranya, mari kita tengok toilet di masjid-masjid, di kantor-kantor pemerintahan, di kantor-kantor dewan yang terhormat, di mal dan tempat perbelanjaan umum yang ada di wilayah Banten.
Keep toilets clean for the next user !!!
















IRVAN HQ
(dari berbagai sumber)

BAND RETROVILLE

22.46

Sebuah kisah lika - liku perjalanan terbentuknya Retroviile. Membawa mereka pada sebuah kekompakkan dalam arti persahabatan. Di awali oleh Dheo Bersama kawan – kawan adalah segelintir remaja yang sering berkumpul untuk bermain, belajar serta berinovasi.

Bermula dari “iseng” mereka mengikuti parade band yang diselenggarakan oleh salah satu studio band. Semenjak itu tak terasa bakat mereka mulai terasah sedikit demi sedikit, dan semenjak itu studio band menjadi tempat awal mereka meniti karir untuk bermain music secara serius. 

Retroville berdiri dengan formasi dheo padai vocal,Oby pada lead guitar, Imat pada rythme, Yunus pada bass, Refa pada keyboard, dan Baraa pada drum. Memulai dengan nama “RETROVILLE” pada 20 MEI 2008, yang kami artikan dengan: RETRO yang berarti classic atau dulu, VILLE (village) yang berarti DESA.

‘ Karena semua bermula dari kampung halaman kami ujar “ mereka, kampung yang menjadi kebanggaan mereka, dan yang menjadi saksi sejarah RETROVILLE. mereka memang bukan band yang namanya langsung melejit, mereka hanya sebagian dari komunitas pelajar yang ingin sukses terutama dalam berkarir di dunia musik. Dan mereka semangat berujar  untuk selalu optimis karena adanya dukungan dari keluarga serta teman-teman, maka sampai saat ini RETROVILLE masih tetap mengisi hiburan dunia musik khususnya di kampung halaman yang mereka banggakan ini.

Dan sobat BieM yang ingin coba mengenal mereka coba kalian bias temui mereka di Jl. Banten Gg. H. Wikarta No. 14 Kebaharan Serang – Banten.

Salam Kenal dan sukses buat kalian!!!

SARMANI : SENI ADALAH LONCENG UMAT

22.04

Menjadi seniman, tentunya bukanlah satu profesi yang lazim dipilih, terlebih pada era sekarang, dimana profesi diartikan sebagai sebuah pekerjaan yang menghasilkan uang berlimpah. Menjadi seniman mestilah siap mental, karena banyak faktor. Dua diantaranya adalah tingkat apresiasi masyarakat kita pada seni masih harus terus dibangun, dan kesenian membutuhkan ‘keikhlasan’ dalam menjalankan prosesnya. Hal inilah kiranya yang melandasi Sarmani (59) tetap bertahan di Ubrug. Sejak berumur 6 tahun, dia sudah gandrung menonton bahkan ikut serta dalam tiap pertunjukan Ubrug.
            Ubrug merupakan salah satu jenis teater rakyat yang hidup dan berkembang di Banten. Ditengarai Ubrug sudah ada sejak 1900-an, dan grup Ubrug tertua adalah Ubrug Nyi Ponah yang ada di Tangerang. Bentuknya hampir mirip dengan teater rakyat di daerah lain, misalnya lenong, mastres,  atau ludruk.
            Dalam menekuni keseniannya, Sarmani telah melewati beragam tantangan dan pantangan. “Pernah satu kali, anak saya merasa malu karena diejek kawannya gara-gara saya jadi pemain Ubrug. Saya pun bilang ke anak saya, walau pekerjaan saya begini, nanti, guru-guru mereka itu akan belajar sama saya”. tukasnya diiringi senyum tipis. Apa yang diutarakan Sarmani itu bukanlah bentuk kesombongan, karena hari ini, Sarmani telah membuktikan ucapannya itu dengan kerap diundang sebagai instruktur seni tradisi oleh banyak pihak, termasuk sekolah-sekolah. 
Bagi lelaki yang berposisi sebagai penabuh kendang ini, baginya kesenian adalah lonceng umat. Lewat kesenianlah, agama menjadi sesuatu yang lebih indah. Dia mengumpamakan lantunan adzan yang selalu dikumandangkan tiap waktu sholat, begitu indah didengarkan karena mengandung nada dan irama. “Sering, kami diminta untuk terlibat dalam penyuluhan-penyuluhan pemerintah. Seperti kemarin di BNN” tukasnya.
Begitulah, Sarmani telah meniatkan dirinya untuk mendedikasikan hidupnya bagi Ubrug dan seni musik tardisional lainnya. Dia tidak pernah mengeluh dan mengaduh, meski beban hidup kian menghimpit. ***

Jaro Dainah : “Saya diminta untuk mengabdi lagi 6 tahun ke depan”

21.55

Namanya makin tidak asing lagi bagi pemerhati kebudayaan, bukan hanya di Banten tetapi di Indonesia. Sosoknya menjadi wakil masyarakat adat yang sudah berabad-abad berhasil bertahan sampai sekarang. Di setiap event di luar Baduy, Jaro Dainahlah yang menjadi juru bicara, seperti saat acara Seba Baduy yang dihelat setiap tahun. Begitu pun ketika ada tamu yang bertandang ke Baduy, sudah barang tentu akan diarahkan ke pria yang berkumis lebat itu yang berperan sebagai Jaro Pamarentah.
            Bagi Jaro Dainah, penunjukan dirinya sebagai Jaro Pamarentah adalah sebuah kepercayaan yang mesti dijaga. Ia tidak ingin, warganya mendapat celaka karena ia tidak bisa menjalankan amanah. Oleh karenanya, dalam setiap kesempatan, dirinya selalu mengkomunikasikan perihal Baduy kepada orang-orang luar yang ditemuinya. Seperti saat BieM berkesempatan berbincang di kantor Disbudpar Provinsi Banten. Jaro Dainah tidak segan-segan untuk memberikan informasi tentang Baduy, tentunya jika diminta oleh lawan bicara.
            Dalam kesempatan itu, Jaro Dainah menceritakan bahwa belum lama ini, dalam sebuah pertemuan adat yang dihadiri segenap perangkatnya, dirinya diminta untuk melanjutkan kepemimpinannya. “Kami dimenta jadi jaro deui jeung 6 taun kahareup” ujarnya.
            Ini berarti, sampai 6 tahun ke depan, Jaro Dainah telah mengabdi selama 17 tahun. Sebuah prestasi yang mengagumkan, mengingat segala aktifitas di Baduy berlandaskan nilai batin (spiritual).
Hal lain yang menarik adalah bahwa sejarah Baduy, berkelindan dengan angka 3-5-7. Angka ini menunjukkan tentang sejarah awal hidup Baduy, beranjak dari 15 tokoh yang kemudian berpencar berkelompok bergantung pada misinya. Jaro Dainah menjelaskan kalau 15 tokoh ini terbagi pada 3 tokoh menjadi perwali nagara, 5 tokoh menjadi kaum wiwitan dan 7 tokoh menjadi kaum pajajaran (pawayangan). Selain itu, dia juga menjelaskan sedikit tentang kesenian Baduy yang terdiri dari karinding, angklung, rendo dan kacapi. Dan yang jarang diketahui masyarakat banyak adalah kalau ternyata, Baduy juga memiliki gamelan, yang memang hanya diperuntukan bagi ritual khusus. ***

Kongres KSI: Saat Nasionalisme Jadi Dasar Kesusasteraan

21.24
Dengan dihadiri tidak kurang dari 130 peserta, acara Kongres Komunitas Sastra Indonesia (KSI) II dan Seminar Sastra Indonesia Mutakhir dibuka dengan meriah malam tadi. Acara yang digelar di Wisma Agramulya Cisarua Bogor tersebut mengambil tema ‘Sastra Sebagai Sumber Inspirasi dan Pemberdayaan masyarakat di Era Global. Selain ditujukan sebagai ajang silaturahmi anggota KSI se-Indonesia, kegiatan tersebut juga dijadikan momen untuk pemilihan ketua umum KSI. Dalam sambutannya, Bambang Widiatmoko selaku ketua panitia mengatakan bahwa pelaksanaan kongres tersebut diikuti 50 Komunitas Sastra dari beragam daerah.

“Komunitas sastra yang paling banyak mengirimkan delegasinya berasal dari Kalimantan yang berjumlah 30 orang” paparnya. Nampak hadir beberapa pesohor sastra Indonesia pada malam itu, seperti Habiburahman el-Shirazy, Prof. DR. Abdul Hadi WM, Wyg SM, Dinullah Rayes atau Idris Pasaribu.
Prof. Dr. Abdul Hadi WM dalam orasi sastranya mengatakan bahwa sudah seharusnya para pelaku sastra menjadikan realita sosial/kultural sebagai pondasi estetika berkarya. “Negara kita sekarang sudah terlalu banyak didikte oleh kekuatan asing” Cetusnya.
Hal tersebut diamini oleh Wowok Hesti Prabowo, dalam sambutannya sebagai ketua Yayasan KSI, menyatakan bahwa KSI sudah seharusnya menjadi komunitas yang concern terhadap persoalan kerakyatan. “Nasionalisme mesti menjadi jiwa dalam berkarya” Ungkapnya menanggapi komunitas-komunitas yang hanya mengedepankan estetika.
Dilanjutkan dengan pemberian dan penyerahan hadiah kepada para pemenang KSI Award. Terpilih sebagai pemenang utama adalah Imam Budi Sentosa, disusul Anwar Putra Bayu sebagai salah satu pemenang puisi unggulan.
Di penghujung acara, beberapa peserta kongres berkesempatan membacakan puisi-puisinya di hadapan audiens, diantaranya Habiburachman El-Shirazy, Sihar Ramses Simatupang, Chavcay Saefullah, Musatafa Ismail, Anwar Putra Bayu, Fakhrunnas MA Jabbar. Selain itu tampil juga Rukmi Wisnu Wardhani dan Sosiawan Leak. Penampil terakhir ini mampu membetot perhatian peserta dengan pembacaan puisinya yang atraktif, dengan membawakan puisi berjudul ‘Dunia Bogam Bola”.

KSI Bersama Medy Lukito

Setelah melalui proses panjang dan melelahkan, pada Kongres Komunitas Sastra Indonesia (KSI) ke II yang digelar di Wisma Depdiknas Argamulya, Cisarua-Bogor akhirnya memunculkan wajah baru pemimpin KSI untuk 3 tahun ke depan pada sabtu malam. Adalah Medy Lukito yang secara voting terpilih sebagai ketua KSI periode 2012-2015. Sementara Bambang Widiatmoko terpilih sebagai Sekretaris dan Iwan Gunadi selaku Bendahara.
Terpilihnya Medi Lukito selaku ketua setelah melalui proses sidang formatur yang terdiri dari beberapa perwakilan KSI daerah, diantaranya Ahmadun Y. Herfanda, Habiburahman El-Shirazy, Idris Pasaribu, Ayid Suyitno PS, Wig SM, Arsyad Indradi, Iwan Gunadi, Mahdiduri dan Medy Lukito.
Dalam sambutannya, Medy mengaku bahwa bagi dirinya, menjadi ketua sebuah komunitas besar sangat berat sehingga dalam menjalankan roda organisasi dirinya meminta dukungan pada setiap pengurus dan anggota untuk bersibahu bersama-sama.
Dalam kesempatan itu pula, Kongres KSI menghasilkan beberapa rekomendasi yang sifatnya internal dan eksternal. Diantaranya adalah bahwa KSI ke depan harus memiliki badan usaha yang bisa menghidupi anggotanya. "KSI Harus punya penerbitan sendiri, agar bisa mengakomodir karya-karya sastra dari KSI daerah" Ungkap Jumari HS. Selain itu juga merekomendasikan agar pemerintah memerhatikan nilai kerakyatan dalam membuat sekaligus mengeluarkan kebijakannya.
Selayaknya acara sastra, dalam kongres itu pun digelar pembacaan puisi dari para penyair seperti Sosiawan Leak, Fatin Hamama, Rukmi Wisnu Wardhani, Mustafa Ismail, Sihar Ramses Simatupang, Habiburahman El-Shirazy, Anwar Putra Bayu, Chavcay Syaefullah, Jumari HS, dan lain-lain. [dre]

Puisi - Puisi Iskandar Noe

21.15


KATANYA BURUNG NAZAR
  
Sungguh aku bernazar
untuk bercerita tentang burung nazar
tetapi cerita itu hanya kutipan-kutipan
sebab di negeriku tak ada burung itu
yang ada burung gagak

Katanya
Burung nazar punya misi khusus 
melestarikan alam lingkungan 
dari mayat-mayat busuk
hewan-hewan liar
dan manusia korban perang suku

Katanya
Burung nazar pemakan mayat
ia bisa mencium bau kematian
Ia akan hinggap didekat calon mayat
di bubungan atap
atau pohon-pohon didekatnya

Katanya
Orang yang mau mati menebarkan bau
undangan
ditangkap oleh burung nazar 
yang punya energi dekompositif
pada sistem neuro biologisnya

Katanya
ia akan datang ketika kematian hampir tiba
dan menghabiskan makanan dengan bersih
bahkan tulang-tulang muda dipatuk dan dimakan
bersih putih tak bersisa

Katanya, Katanya
Kata si Nazar

Jangan cuma katanya
kata si Nazar

Buktikan bahwa Aku Nazar pemakan bangkai
Itu memang naluriku

Jangan Cuma Katanya, Katanya

***

Noe 29/05/2011


AKU
(Dengan permintaan maaf kepada Chairil Anwar)

Kalau sampai waktuku
Aku mau tak seorangpun merayuku
Biarkan aku minggat kenegri seberang situ
Toh masih sama-sama tanah melayu

Tak perlu nangis sedu-sedan itu
Aku ini bukan binatang jalang
Tetapi ada orang bilang 
Aku ini oportunis petualang

Tak usah takut peluru menembus kulitku
Paling-paling orang dan media ribut dahulu
Aku tetap meradang menerjang
Tetapi orang bilang lari tunggang-langgang

Uang dan visa kubawa berlari
Sampai hilang pedih perih

Dan aku lebih tidak perduli
Dengan uang barangkali
aku mau hidup seribu tahun lagi

***

Noe/27/05/2011


MENGGEDOR PINTU SORGA

Keprihatinan dan kesedihanku tuntas sudah
Melihat lagi-lagi melihat
berbuat lagi-lagi berbuat
sesama saudara dilempari batu disayat-sayat dibunuh.
apa salah mereka?
cukup sesal?
begitu aku bertanya
 
Apakah kiranya kita Setelah peristiwa dan bencana
hanya dapat mengutuk dan menyesalkannya
tanpa bisa mencegah amuk dan angkara murka

Marah, kugedor-gedor pintu sorgaMu
Langit mendung biru
Matahari suram membatu

 Berteriak lantang:
Tuhan itukah aku?
yang bertahun-tahun rindu kepadamu
tetapi tiba-tiba jadi dungu
atas namaMu, membunuh saudaraku
Hilang malu, Darah beku

Lagi-lagi tusuk, Lagi lagi kepruk Lagi-lagi aku terpuruk

Kemana lagi kulemparkan suaraku Kalau tidak kelangitMu
Kemana lagi kularikan kutuk bagiku

ketika kuteriakkan namaMu namun kusayat-sayat kejam saudaraku
Tuhan kenapa diam? Apakah hanya cukup tanda
Langit yang suram?
***

Iskandar Noe, 07/02/2011


EMAK

Emak
Lima pohon kelapa, 
Sebidang tanah bertanam kacang
Dan musim-musim kemarau panjang
Tak menghasilkan harapan
Lebih banyak menyimpan kesakitan

Sedang dikota 
Nurdin menjanjikan
Setiap minggu dapat pemasukan
Dari sisa uang makan, 
ada yang bisa disimpan

Emak
Biarkan aku berangkat diam-diam
Biar janji dan masa depan
Kusimpan dalam ingatan
Kalau Nurdin berani
Kenapa aku mesti tetap disini

Dikapal kukirim salam yang tersisa
Betapa perlu aku bantuan doa
Semoga ombak ramah mengantar
Dan pantai baru ranah pijakan

O, emak
Tanah baru tak lebih biru
Namun engkau tak boleh tahu
Kusembunyikan dalam kepenatanku
Melewati antrean panjang
Surat-surat yang dibaca para askar
Tempat tidur dilantai sehelai tikar

Kota lebih ganas dari semak belukar
Menipu menghasut mendesak melempar
Betapa penting pesan emak untuk berhati hati

Bertahan sampai lebaran kelima mak
Aku pulang 
Dengan kegembiraaan yang kutahan
Sekedar mencium pelipismu yang beruban

Kerna barang bawaan yang kuserahkan
Pasti akan engkau bagi-bagikan
Kerna aku telah belajar padamu
Cara memberi dengan kerelaan

Emak,
Ternyata engkau lebih pandai menyembunyikan
Keberangkatan yang tak pernah engkau sampaikan
Perkenankan aku menangis dengan bunga yang kutaburkan
Ya, ya keberangkatan adalah sebuah kehilangan


SUTI

(Dulu engkau berjanji
Setahun akan menyusulku kembali
Kenapa kau tunda setahun lagi Suti?)

Bukankah cukup modal untuk berjualan dirumah
Dari hasil kita berjerih payah
Pulang sekarang bersamaku, ayolah.
Tak usah visa diperpanjang
Ganti majikan tidak tidak gampang
Majikan lama terlalu baik bagi kita

Gambarmu yang kau titipkan kemudian
Terlihat tidak meyakinkan
Engkau kehilangan warna
Kurus pucat tak berjiwa

Kini di bandar udara
Aku mengawal tubuhmu
Dalam kotak yang tak boleh dibuka
Tangis apa yang bisa menukar kecewa
Sia-sia.....



Noe: 29/11/2010