Udara Cinta dalam Hatiku

12.57


Oleh : Esih Yuliasari

Waktu demikian cepat menerbangkan detik-detik masa kemarin. Bagai angin menerbangkan dedaunan kering dari rantingnya. Sang udara yang meneduhkan itu, membawa pesan kata-kata di balik dedaunan yang diterbangkannya. Sebuah kata-kata yang tak bisa dilukiskan dengan ungkapan, sebuah kata-kata yang tak bisa disembunyikan meski dalam merahasiakan. Sebuah kata-kata yang dalam raut bahasa wajah selalu tertafsirkan ceria, bahagia, indah, dan membuncah. Ya, itulah “udara cinta” yang tengah bertandang di dalam hatiku...
Mencintai, dicintai
Fitrah manusia
Setiap insan di dunia
Akan merasakannya
Indah, ceria, kadang merana
Itulah rasa cinta...
Kulantunkan nyanyian cinta. Sebagai tanda ungkapan rasa, ternyata terasa bahagia bisa merasakan cinta lagi. Entah bagaimana caranya aku bisa terpana dan takjub padanya. Ketika itu, dalam rangka suatu acara aku dan dia terpaksa bertemu untuk pertama kalinya. Aku belum pernah kenal dengan dia ketika itu.

Dalam rombongan motor menuju suatu tempat acara yang berada di dekat laut itu, dia selalu ngebut membawa motor matic-nya yang berwarna biru. Aku pun tak mau kalah, aku pun menyalipnya balik. Dia menyalipku lagi. Dan aku mulai geram. Ketika aku ingin menempongnya lagi, lampu merah telah menyatukan kami. Lampu merah lah yang mempertemukan kami. Disitu ia membuka penutup helm-nya, dan tersenyum padaku. “Haha..., ini dia toh lelaki yang ngajak ribut aku?” denyut hatiku. Aku pun tersenyum balik padanya.



Aku ingat betul senyuman yang pertama ia berikan padaku di lampu merah itu. Khas.. Lesung pipit menyelip di pipinya...

Ketika sampai di tempat acara, kami memarkirkan motor. Di sebelah tempat parkir adalah pagar terluar hotel, dari situ dapat terlihat dengan jelas laut biru. Tempaan senja yang kuning keemasan membuat birunya laut nampak berkilau-kilauan dari kejauhan. Sungguh indah karya Tuhan yang satu ini. Subhanallah...

“Bagus ya...” ujarnya.
“Iya... Subhanallah...” jawabku.

Setelah itu kami dan rombongan masuk ke balroom hotel ke tempat acara diselenggarakan. Di dalam dia membuka percakapan terlebih dahulu. Ia mengenalkan namanya dan aku mengenalkan namaku. Obrolan terasa santai dan renyah. Entah kenapa terasa enak diajak bicara orang satu ini. Disitu aku mulai tertarik bicara lebih jauh. Setelah bicara lanjut mengenai asal daerah, dan sekolah. Ketika itu aku baru sadar bahwa ia lebih tua dariku. Kini ia sudah kuliah semester 3, sedang aku masih kelas XI. Huaaa.... kalaupun aku harus jatuh cinta kenapa aku jatuh cinta lagi kepada orang yang lebih tua dariku?

Tak apalah. Mungkin aku hanya bisa mengagumi senyum, tawa, dan perhatian yang ia berikan ketika itu. Setelah ia tahu bahwa aku lebih muda darinya, ia mulai memanggilku dengan sebutan “Neng”. yang berarti dalam bahasa Sunda adalah panggilan untuk anak perempuan. Hihi, lucu saja mendengarnya tiap ia memanggilku dengan sebutan itu; “Neng, neng...” Haha. Ya sudahlah, terserah dirimu Bang, ujarku. Aku mulai biasa memanggilnya abang.

Terkadang jatuh cinta sesaat itu membutakan mata. Yang berujung pada kekhilafan nurani tanpa ujung. Jika seseorang bisa menahan dan menjaga pandangannya, maka mungkin tidak akan terjadi hal yang seperti aku rasakan ini. Sampai saat ini pun mungkin di hatiku masih tertera nama dia disini, dan masih kuingat ketika ia panggil aku dengan sebutan “Neng” itu. Tapi apa aku salah? Apa aku salah terjatuh dalam cinta? Bukankah itu adalah fitrah manusia? Bukankah itu hak setiap insan? Bukankah itu adalah anugerah? Bukankah itu merupakan nikmat yang dititipkan oleh Tuhan melalui udara takdir-Nya?

Haahh, otakku hanya bisa ngeles saja. Memprotes. Menggugat. Menyela. Dan tidak mau tahu apakah pertanyaan-pertanyaan protesku itu tertera dalam aturan kitab suci dan hadits nabi. Sungguh, 100% aku yang salah. Hanya bisa-bisaku saja membuat pertanyaan-pertanyaan untuk seolah membenarkan nafsuku. Astaghfirullah... Lindungiku dari jatuh cinta sesaat, Ya Allah. Dan jagalah pikiranku dari sesuatu yang salah yang kubenar-benarkan adanya. Amin.

Kulanjutkan lantunan nyanyian cinta itu,
Berlindunglah pada Allah
Dari cinta palsu
Melalaikan manusia
Hingga berpaling dari-Nya
Menipudaya dan melenakan
Sadarilah wahai kawan...

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »