Puisi-Puisi Arundanu

23.02





Mengayuh Gancu

Seperti batu sungi yang kekal:
Dingin tubuhmu menumbuhkan lumut perjalanan

Mengayuh gancu menyisir gundukan sampah kertas
Sampai keringat dikawinkan matahari dengan baunya limbah

Perempuan perkasa yang keluar dari bara tungku
Mengejar torehan-torehan anaknya pada awan cita-cita

Dia, bunting karena keadaan
Yang selalu jadi beban di tubuhnya.

2011


Terbujur Kaku

Pada siapa harus kuutarakan lagi cintaku

Kau yang tergantung di ranting-ranting malam
Menjelma kesunyian di setiap lengkung tubuhku

Itulah sisa perjalananku
Tak ada yang mengekal
Setelah kau pergi ke negeri yang tak berpeta
Dari rumah ke rumah yang tak berpintu telah kusinggahi

Tak ada yang bersahut

Hanya tubuhku terbujur kaku dikerumuni waktu.


2006


Dalam Matamu

Di depan rumah itu
Di mana kita pernah memahatkan nama
Dan mengekalkan cerita
Kau tinggalkan aku dalam matamu

Malam yang sepucat tugu
Tertinggal di pangkuanku
Dari waktu yang tertinggal di tubuhmu

Aku pun menari
Mengiringi irama yang berkelebat dari uraian rambutmu
Di mana jejak-jejak menjadi beku

Matamu yang seperti lilin tertiup angin
Tempat kehidupan segala ngilu.

2007

Bunga Di tanah Merah

Bunga yang ditebar di tanah merah:
Tempat bersemayam segala arah
Adalah kenangan yang terlepas antara kita

Bahwa perjalanan memang perlu berganti
Di sini aku masih tak tahu arah
Menulis dengan kata-kata elastis, tanpa menceritakanmu
Padahal kita pernah bercerita tentang beberapa nama kekasihmu dan aku.

Kota ini, bagimu tempat tumbuhnya segala ngilu:
Mulai dari birokrasi yang bobrok,
Mahasiswa-mahasiswa tanpa buku-buku bacaan
Sampai kekasih yang tak pernah ditulis namanya dalam sajakmu

Padahal kau tak lahir di sini tapi kenanganmu lengket pada kota
Yang terpagar asmaulhusna
Sampai-sampai bau keringatmu menjadi sajak yang tak terbaca
Oleh kota ini
Dan aku hanya bisa mengeringkan air mata.


2011

Langit Lembab oleh Gelisah

Matahari tua lengket di lautan
Setelah menyaksikan kegenitanku
Mengayuh cinta di sungai usia yang tak lagi menentu:
Hanya untuk mengejarmu
Na..

Setelah aku mendapatkanmu
Ternyata kau seperti balok es:
Membekukanku di dinding waktu

Na..
Langit lembab oleh gelisahku
Menatap wajah yang perlahan lenyap


2011



Pada Langit yang Ungu

Telah aku kirimkan sumpah yang sakral
Pada langit yang ungu
Di depan rumahmu kecemasan tumbuh dengan cepat
Lantaran kita menjadi bersama:
Manusia terikat doa:
Dan aku menjadi suamimu
Yang akan membelikanmu selimut bagi dingin perjalanan ini

Kekasihku
Hanya satu bulan keringat ini lengket di bahumu
Tapi aku tak menyesal
Bahkan meski semua dalam tubuh ini lebur pada laut lepas
Kehidupanku


2011


T EPI SUNGAI 1

Sungai yang berkilatan di tapak matahari
Menghantarkan peluh-peluh kota
Dan peluh pabrik kimia ke tubuh laut Jawa

Ia seperti kenangan yang setia pada kenangan:
Melambaikan panji-panj keabadian

Namun tak usah kau kenang
Mar!
Dari serongan sudah terlihat
Sungai begitu gelap
Dan cinta tak akan meluap.


                                                                Ciujung, 2009


Ucap Cinta Dari Luka

Ya Rohman
Di sajadah malamku ribuan penyesalan mengalir
Menggenangi jiwaku yang kering di setiap musim

Ya Rohim
Di setiap sudut kealfaan
Darahku membentuk bayangmu
Yang memburu bagai serdadu

Ya Rohman
Ya Rohim
Mengucap cinta dari bibir penuh luka.

2006


Aku Kembali Menyisir Jejakmu

Dalam kerinaian kota
Aku kembali menyisir jejak-jejakmu
Di antara gemerlap pertokoan
Dan kemacetan jalan

Kau tinggal bayang-bayang

Tak ada yang mengenalmu
Di situ
Hanya kengiluan waktu
Yang membuat kita bersatu

Yah!


                                                Nikomas, 2008


Apakah Kau Tahu

Apakah kau tahu
Isyarat dingin yang dibawakan angin
Kepada tubuhku yang menjadikan gigil

Apakah kau tahu
Isyarat rindu yang selalu mengadu pada dinding waktu
Yang menjadikanku ngilu

Apakah kau tahu
Isyarat cinta yang dibawakan kata
Kepada semesta yang menjadikannya berada

Dan tahukah kau
Di matamu
Aku berada.


2008




Arundanu lahir di serang 1982, pernah berkuliah di Universitas Negeri Sultan Ageng Tirtayasa jurusan bahasa dan sastra indonesia. Walau kuliah tidak beres tapi akhirnya lulus juga. Selama berkuliah menulis puisi hanya untuk menggambarkan kegetiran dirinya sendiri. Puisi-puisinya termuat di koran lokal Banten, dan Batam tidak ketinggalan pula puisinya pernah nongkrong di Majalah Sastra Horison. Sekarang berkegiatan di komunitas sastra Kubah Budaya dan baru tercatat sebagai guru sastra di Pondok Pesantren Modern Assa’adah Petir-Banten..

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »