Lorong Gelap dalam Matamu

12.43

Oleh: Niduparas Erlang

Senin, Februari 2008.
Tak begitu jelas kutangkap kelebatmu yang melintas begitu saja di pelataran rumah itu. Hanya sepi yang begitu pekat melayang-layang di punggungmu. Menebarkan aroma dingin yang menjalar ke mataku, menggigilkan sekujurku. Tak tahukah kamu, kalau embusan lembut angin pagi yang memaksa berdiri bulu-bulu di tengkukmu, adalah sebagian napas yang kulepaskan sebelum kamu lelap?!

Ia cuma bergeming sembari tak lepas matanya menatap lekat-lekat perempuan yang berjalan menjauh itu. Namun, dari riak air mukanya, nampak terpendar kemilau matahari pagi, dan seolah ia sedang merayakan sesuatu, atau barangkali ia tengah bergembira. Ya, barangkali ia sudah senang bukan kepalang meski cuma melihat punggung perempuan itu.

Tak banyak yang bisa ia lakukan, selain terus manatap punggungnya, memperhatikan langkahnya, lalu sedikit menyenyum, dan mulai berkhayal yang bukan-bukan. Menghayalkan perempuan itu menjadi kekasih yang mengerti keadaannya, mau menerimanya apa adanya, mendampinginya ke mana pun, dan seterusnya, dan seterusnya. Akan tetapi, itu hanya sebatas lamunan, karena toh ia sendiri tak pernah bernyali untuk sekadar menyapanya, menanyakan kabarnya. Ia penakut, atau lebih tepatnya pengecut!


Dan setelah perempuan itu lenyap, tak lagi bisa ditangkap matanya yang rabun, ia mulai menulis. Barangkali sebuah puisi. Atau mungkin juga sebuah catatan untuk sekadar mengawetkan pertemuannya dengan punggung perempuan itu.

Sementara, matahari di atas kepalanya semakin terik menyengat. Tetapi ia nampak tak peduli, meski keringatnya menyembul dari kening, dada, punggung, ketiak. Dan bau tubuhnya yang jarang tersentuh air dan sabun itu meruapkan bau tak sedap.
*  *  *
Selasa, Februari 2008
Hanya ruang hampa yang menari-tari di pundakmu. Tak ada punggung yang menyimpan sketsa rindu sebab kamu diapit dua perempuan lain di depan dan di belakangmu. Tidakkah kamu mau menoleh ke arahku sebentar saja?

Lagi, ia cuma bergeming sembari tak lepas matanya menatap lekat-lekat salah satu perempuan di atas sepeda motor itu. Namun, dari sorot matanya, nampak terpendar kemilau matahari senja, dan seolah ia kembali merayakan sesuatu, atau barangkali ia tengah bergembira. Ya, barangkali ia sudah senang bukan alang kepalang meski cuma melihat pundak perempuan itu.

Dan selalu, ia tak melakukan apa pun, selain terus manatap pundaknya, memperhatikannya menjauh, lalu sedikit tersenyum, dan mulai berkhayal yang tidak-tidak. Menghayalkan perempuan itu menjadi kekasihnya, menjadi istrinya, menjadi ibu dari anak-anaknya, dan seterusnya, dan seterusnya. Akan tetapi, lagi-lagi itu hanya sebatas lamunan, karena sampai hari ini ia masih belum bernyali untuk sekadar menyapanya, menanyakan kabarnya. Ia tatap pengecut!

Dan setelah perempuan itu lenyap, tak lagi bisa ditangkap matanya, ia kembali menuliskannya. Barangkali sebuah prosa. Atau mungkin juga sebuah catatan untuk sekadar mengawetkan pertemuannya dengan pundak perempuan itu.

Sementara bau tubuhnya telah benar-benar mengalahkan sengatan matahari.
*  *  *
Rabu, Februari 2008
Tak ada yang bisa kutulis mengenai pertemuanku denganmu. Ke manakah kamu hari ini? Mengapa kamu tak melintas atau berkelebat lagi seperti kelelawar yang tengah memburu buah yang ranum?
Non, adakah kamu menyimpan kerinduan di balik kulit randu? Ah, mungkin saja tidak, sebab kamu terlampau sibuk, terlampau tak peduli, sehingga mungkin tak ada lagi ruang dalam dirimu untuk bersemayam seekor melata bernama rindu.
Adalah ia yang kini termenung sendiri di bawah pohon ranggas. Dan masih saja bersikeras membuat catatan kecil meski ia tak bertemu perempuan itu. Dan entah mengapa, selalu saja ada yang dicatatnya. Barangkali sebuah harapan. Atau mungkin juga sebentuk kegelisahan yang coba dicairkan.
Sementara angin yang berkesiur melambaikan rambutnya, menjatuhkan sehelai daun yang sudah kuning-kecoklatan di depannya. Dan ia masih saja termenung. Tapi kemudian, dipulungnya juga daun itu setelah ia mengiranya sebagai cenderamata yang dititipkan kekasihnya.

*  *  *
Kamis, Februari 2008
Non, jangan membuatku gila karena tak lagi melihatmu! Aku kangen. Tak adakah waktu luangmu—sedetik saja—untukku, untuk kita, agar aku dapat menguak segalanya?

Ia lunglai. Terhuyung-huyung, seperti seorang pemabuk sehabis menenggak bergalon-galon alkohol. Dan kakinya itu, nampak berat atau dibebani sesuatu, hingga ia terpaksa menyeret-seretnya.

Pun, kulit wajahnya nampak murung, kerut-kemerut. Tak ada lagi pendar matahari pagi di sana, yang menyisa cuma gumpalan awan di musim penghujan yang telah lama menyimpan uap, tapi sebelum sempat menjatuhkan bebulir airnya satu-satu.

Barangkali, di dalam kepalanya itu, sedang terjadi sebuah pertaruangan antara dua pendekar pilih tanding. Peperangan yang memakan waktu cukup lama, dan hampir tak ada jeda. Mesti ada yang mati baru berhenti. Dan yang tersisa cuma jejaring otaknya yang terputus, remuk, carut-marut.
*  *  *
Jumat, Februari 2008
Aku melihatmu! Bahkan, bukan cuma punggung atawa pundak yang senyap itu, tetapi sejuring pipi kirimu, akhirnya dapat juga dirasakan mataku. Terima kasih, meski mungkin kamu tak hendak membenturkan matamu pada mataku. Sebab mata adalah mula segala membaca. Takutkah kamu?

Ia sumringah, raut wajahnya terlihat cerah dan bersemangat. Dari bola matanya, terlihat kunang-kunang berlompatan. Seperti reriak air kali tertimpa cahaya ketika purnama raya.
Namun, ia tak juga beranjak dari posisinya untuk sekadar menyapanya. Ia kukuh pada duduknya semula, seakan itulah zona nyaman yang dimaunya selama ini. Dan ia tak peduli pula pada suara-suara yang riuh rendah di ruang pertunjukan itu.
*  *  *
Sabtu, Februari 2008
Semuanya tandas. Tak ada lagi yang harus kutulis. Ludes! Sebab mata kita telah bersirobok. Dan aku dapat melihatnya di lorong matamu. Sebuah nuansa yang tak damai, seolah lorong yang hendak kumasuki itu menggaritkan keterasingan dan kengerian. Ada sesuatu yang ganjil di sana. Barangkali mambang. Barangkali sesuatu yang runcing, bersudut rumit. Tak mudah diperkirakan apalagi diurai.

Ia terperangah. Bengong melompong melihat perempuan yang selama ini dikuntitnya, beradu ketajaman mata dengannya. Tetapi, dari riak air mukanya ia nampak tak bergembira. Barangkali, ia memang lebih menikmati kekagumannya pada perempuan itu, menumpuk keresahan dan keinginan-keinginan yang tak pernah bisa ia mengerti. Dan barangkali, ia lebih menyukai berburu ketimbang menikmati hasil buruan. Atau ia telah mendapati sesuatu yang mengerikan sekaligus menakjubkan di balik mata perempuan itu?
*  *  *
Minggu, Februari 2008
Telah kuputuskan, bahwa kita tak usah lagi saling memandang apalagi merindukan. Sebab kamu terlampau canggih untuk makhluk bodoh sepertiku. Sebab mawar tak boleh tumbuh di atas kotoran kerbau. Maka, bolehkan aku melanjutkan perjalanan demi sebuah capaian mahatinggi.
Ia terbaring lemah di kamarnya yang senyap dan poranda. Hanya garak bola mata, dengus napas, dan kedipannya saja yang menjadi pertanda bahwa malaikat maut masih enggan mendekapnya. Selebihnya, tak ada lagi rindu atawa sekadar rasa penasaran. Ia menginginkan yang lebih tinggi dari sekadar kekasih…. Tapi, barangkali ia tak tahu apa yang lebih maha dari kekasih. Entahlah! 
*  *  *
Senin, Februari 2008
Akkhhh…! Non, ijinkan aku buta dan bahagia.
Dilihatnya perempuan itu bergandeng mesra dengan seorang atau sesuatu yang asing yang tak dikenal dan tak dikehendakinya. Dan ia pun ambruk. Barangkali ada yang retak pada dirinya, atau malah ringsek sama sekali. Kedua telapak tangannya hanya menelungkup pada wajahnya yang sepucat mayat. Seperti tak ingin melihatnya sama sekali. Seperti benar-benar menghendaki kebutaan pada matanya.
Sejurus, tangannya agak tremor dan tubuhnya nampak berguncang hebat. Sementara dari sela-sela jemari tangannya yang masih menutupi muka, mengalir cairan sewarna darah. Menetes-tetes. [*]

Serang, Awal Februari 2008

Biodata Penulis:
Niduparas Erlang, lahir di Serang 11 Oktober 1986. Sedang belajar di Jurusan Pendidikan Bahasa dan Seni, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta) Serang-Banten. Kumpulan cerpennya yang telah terbit bertajuk La Rangku (Selasar Publishing 2011)—dinobatkan sebagai buku Cerpen Terbaik Festival Seni Surabaya 2011. Cerpen-cerpennya juga terangkum dalam antologi Lelaki yang Dibeli” (2011), Yang Muda Yang Kratif (2010), “Si Murai dan Orang Gila” (2010),Rendezvous di Tepi Serayu” (2009), “Antologi Cerpen Festival Bulan Purnama Majapahit Trowulan” (2010); sementara puisinya terangkum dalam antologi “Antologi Puisi Festival Bulan Purnama Majapahit Trowulan” (2010); “Berjalan ke Utara” (2010), “Candu Rindu” (2009), dan “dari Batas Waktu ke Perjalanan Kamar sampai Kabar dari Langit” (2006). Aktif bergiat di UKM Belistra FKIP Untirta dan Komunitas Sastra Indonesia (KSI) Banten.

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »