Spotlight : My Vision of an Ideal City

23.10
KARANGANTU

Banten lama adalah sebuah museum hidup. Di segala penjuru kawasan dapat ditemukan bukti-bukti sejarah dari sebuah kota yang didesain sebagai kota pelabuhan paling ramai dan terkemuka di Hindia Belanda abad ke 16 M-17 M. Pelabuhan Karangantu memiliki panjang sekitar 1.500 meter, lebar 30 meter, dengan kedalaman 7 meter. Jauh sebelum pelabuhan Sunda Kelapa menjadi pusat perdagangan nusantara, lebih dulu dibangun pelabuhan Karangantu, Banten. Kala itu, Karangantu telah menjadi bandar perdagangan terbesar di Hindia Belanda.

Oleh : dAs albantani

Begitu majunya perdagangan saat itu, hingga Banten menjadi tempat pusat perdagangan domestik dan internasional. Saudagar-saudagar Cina, Arab, Gujarat, Persia, Turki, Birma, Perancis, Inggris dan Belanda banyak mengangkut rempah-rempah yang kemudian dijual lagi di Timur Tengah dan Eropa melalui pelabuhan Karangantu.
Pada sekitar tahun 1614 terdapat sejumlah kapal- kapal dari negeri Tirai Bambu yang berlabuh dan membawa berbagai barang dagangan dari negerinya. Dan 18 tahun sebelumnya, pada sekitar tahun 1596, di Pelabuhan Karangantu untuk pertama kalinya Armada Perdagangan Belanda dibawah pimpinan Cornelis de Houtman mendarat di Banten.

Namun sayang, penghancuran Banten oleh pemerintah kolonial Belanda, yang diikuti pembangunan pelabuhan Sunda Kelapa membuat pelabuhan Karangantu tidak lagi menjadi pusat perdagangan. Secara otomatis kegiatan ekonomi Kesultanan Banten mandek.
Kini, pelabuhan Karangantu tidak lagi menjadi pelabuhan utama di Banten. Kondisinya sangat menyedihkan saat ini. Sungai dan lautnya mengalami pencemaran dan sedimentasi. Hutan bakaunya (mangrove) mengalami abrasi dan terkikis karena sudah hampir hilang tanaman bakaunya. Perkampungan dan pasarnya kumuh tidak terawat. Perahu nelayannya sudah bolong dan rusak sehingga tidak mampu berlayar jauh mencari ikan, ditambah dengan cuaca yang tidak bersahabat dengan nelayan. Kurangnya pasokan air bersih dan sumber energi fosil yang semakin langka dan mahal. Transportasi massalnya tidak berjalan dengan optimal karena infrastruktur penunjangnya sudah rusak. Kanal-kanalnya sudah mengalami pendangkalan. Semuanya berakibat pada menurunnya tingkat kesejahteraan masyarakat karangantu dan mengalami degradasi lingkungan yang sangat mengkhawatirkan.
Saya ingin membangkitkan kembali kejayaan Banten jaman dulu sebagai kota pelabuhan. Kota Pelabuhan yang manusiawi. Manusiawi dalam arti nyaman untuk beraktivitas dan ramah lingkungan. Energinya menggunakan energi terbarukan seperti energi angin, energi matahari, biomass dan energi gelombang. Ekonominya ditopang oleh ekonomi berbasis perikanan dan kelautan (minapolitan), pertanian dan perkebunan. Lingkungannya dibuat sealami mungkin dan memperhatikan keseimbangan ekosistem sehingga menjadi tempat untuk pembelajaran bagi penduduknya serta menjadi laboratorium alam untuk aplikasi teknologi ramah lingkungan.
Sebagai konsekuensi logisnya, maka di kawasan tersebut dibagi dalam 12 zona, yaitu Zona Teluk Banten, Zona Pelabuhan Ikan, Zona Hutan Mangrove, Zona Tambak/Empang, Zona Pemukiman Tradisional, Zona Pertanian dan Perkebunan, Zona Pendidikan, Zona Rumah Susun, Zona Ruang Publik, Zona Pasar Tradisional, Zona Pusat Bisnis dan Zona Transportasi.
Zona yang  pertama adalah zona Teluk Banten (huruf A). Merupakan kawasan teluk yang relatif tenang dan aman dari bencana tsunami dengan gelombang laut yang tidak begitu besar. Di lokasi ini bisa dibuat Bagang Apung untuk budi daya ikan laut dan pembangkit listrik tenaga gelombang yang dikombinasikan dengan tenaga matahari dan tenaga angin.


Gambar 1

Zona yang kedua adalah zona pelabuhan ikan. Posisinya tepat di muara saluran Karangantu dan dibuat menjorok ke Utara (lihat huruf D di gambar 2). Dibangun di sisi kanan dan kiri saluran Muara yang berfungsi juga untuk menahan material tanah atau lumpur  boleh arus laut dari timur dan barat yang mengakibatkan sedimentasi atau pendangkalan pada muara dan saluran Karangantu. Di bagian tengahnya untuk sirkulasi kapal-kapal ikan, kapal nelayan, kapal dagang kapal angkutan umum atau kapal wisata.
Zona yang ketiga adalah zona hutan mangrove (huruf C). Zona ini bisa disebut sebagai zona pelindung dari abrasi pantai dan tempat hidupnya spesies hewan pesisir seperti burung, ikan, kepiting dan lain-lain. Hutan mangrove ini akan dipertahankan dan dikonservasi sampai ketebalannya minimal 100 m dari bibir pantai. Selain sebagai pelindung, hutan mangrove juga dipakai sebagai tempat beraktivitas dan wisata seperti bersepeda dan jogging track. Juga sebagai tempat pendidikan untuk konservasi flora dan fauna mangrove. Pada sisi yang berbatasan dengan teluknya (huruf B) dibuat perkampungan terapung untuk nelayan tradisional. Perkampungan ini sangat memungkinkan dibangun di wilayah itu dikarenakan lingkungan teluk yang relatif tenang dan aman dari bencana tsunami.
Zona yang keempat adalah zona tambak/empang (huruf E). Basic utama dari zona ini adalah tambak ikan bandeng yang menjadi komiditi utama. Kawasan ini bisa ditumpangsarikan dengan budi daya rumput laut dan kepiting. Selain itu pada zona ini dibuat juga perkampungan terapung untuk petambak dan pusat energi terbarukan untuk wind turbin dan solar cell. Juga dapat dijadikan tempat wisata untuk berbagai aktivitas seperti outbond, empang bike, festival layang-layang, festival permainan tradisional dan festival jajanan kampung.
Zona yang kelima adalah zona pemukiman tradisional (huruf F). Kawasan ini merupakan kawasan hunian bagi pendatang dari suku bugis dan suku jawa yang sudah berpuluh-puluh tahun mendiami wilayah sepanjang saluran Karangantu dan Sungai Cengkok dengan rumah panggung khas bugisnya yang masih ada. Oleh karena itu wilayah ini akan direvitalisasi kembali dan ditata sebagai gerbang utama dan landmark Kota Minapolitan Karangantu. Bantaran salurannya dibuat pusat informasi kawasan, taman, pedestrian, wisata kuliner dan dermaga untuk perahu nelayan, speedboat dan kapal angkutan. Aktivitas yang bisa dilakukan adalah bersepeda, kuliner, festival nelayan dan festival makanan tradisional. Selain itu, kawasan ini juga sebagai terminal untuk transportasi sungai dan laut yang akan berwisata ke pulau yang ada di teluk banten/laut jawa dan masuk ke kanal-kanal yang menghubungkan pelabuhan dengan pusat kesultanan Banten.
Zona yang keenam adalah zona pusat bisnis (huruf G). Kawasan ini merupakan kawasan permukiman padat dan kumuh yang tidak memiliki kekhasan, sehingga diremajakan menjadi pusat bisnis untuk kota minapolitan Karangantu. Sedangkan penduduk yang terkena peremajaan bisa berpindah ke zona rumah susun (huruf J) atau perkampungan terapung (huruf B atau E). Kawasan bisnis ini diisi oleh kantor perbankan, jasa perjalanan wisata, jasa perdagangan, dan juga sebagai pusat pelayanan kesehatan skala kota seperti rumah sakit. Model bangunannya tidak ada basement atau lantai dasar (pilotis) yang menyesuaikan dengan kearifan lokal rumah panggung.
Zona yang ketujuh adalah zona pertanian dan perkebunan (huruf H). Pertanian yang utama adalah padi, sedangkan perkebunan yang utama adalah buah-buahan dan sayuran khas pesisir seperti kacang-kacangan, semangka dan lain-lain.
Zona yang kedelapan adalah zona pendidikan (huruf I). Kawasan ini berada di 2 lokasi yaitu di dekat pelabuhan yang merupakan kawasan pendidikan eksisting yaitu Sekolah Tinggi Pelayaran (STP) dan di dekat zona pertanian dan perkebunan yang terdiri dari sekolah play group sampai sekolah menengah atas/kejuruan untuk kelautan dan perikanan.
Zona yang kesembilan adalah zona rumah susun (huruf J). Merupakan kawasan yang menyediakan kebutuhan rumah untuk kaum pendatang dengan model rumah susun. Model bangunannya tidak ada basement atau lantai dasar (pilotis) yang menyesuaikan dengan kearifan lokal rumah panggung dan memiliki roof garden atau publik space bagi penghuninya.
Zona yang kesepuluh adalah zona ruang publik (huruf K). Merupakan kawasan ruang terbuka hijau di pinggir saluran Karangantu yang berfungsi sebagai ruang publik kawasan. Aktivitas yang bisa dilakukan adalah bermain, berkumpul, olah raga dan pendidikan.

Gambar 2

Zona yang kesebelas adalah zona pasar tradisional (huruf L). Merupakan pusat perekonomian hasil laut, tambak, pertanian dan perkebunan. Di pasar ini semua kebutuhan untuk hidup disediakan secara lengkap dan perputaran hasil laut, tambak, pertanian dan perkebunan terjadi secara terus menerus.
Dan zona yang terakhir adalah zona transportasi massal (huruf M). Merupakan stasiun kereta api eksisting yang menghubungkan ibu kota Jakarta dengan Provinsi Banten yang harus ditingkatkan melalui pembenahan stasiun, penambahan gerbong kereta, jadwal perjalanan yang pasti dan tentunya kenyamanan pengguna kereta ini.
Untuk kebutuhan air bersih selama ini mengandalkan air baku yang ada disekitar bendungan karet (kira-kira 2 km) yang dikelola oleh PDAM. Namun untuk pemenuhan tambahan bisa di dapat dari alat penyulingan air laut yang sudah ada di kawasan pemukiman tradisional. Selain itu di sekitar area tambak dibangun tandon-tandon air untuk menampung air hujan. Sedangkan untuk air limbah dialirkan ke bioseptictank yang dikumpulkan sesuai dengan clusternya. Untuk pengolahan sampah memakai alat untuk menjadikan sampah sebagai sumber energi yang bisa digunakan untuk kebutuhan memasak dan pupuk untuk tanaman. Sedangkan sampah yang non organik didaur ulang atau digunakan kembali sehingga tercipta prinsip zero waste.
Gambar 3

VisiKu tentang Karangantu adalah sebuah konsep menata kawasan untuk menyelamatkan peradaban dengan desain dan teknologi. Itu sebuah tantangan yang harus segera diwujudkan, karena kalau bukan kita siapa lagi yang akan merubah kawasan itu menjadi lebih manusiawi.
***

Daftar pustaka :
Museum Banten Lama




dAs albantani adalah nama dunia maya seorang anak kampung yang mencari kehidupan sebagai anak kost selama 11 tahun di Kota Bandung. Nama aslinya Mukoddas Syuhada, lahir di Serang tanggal 28 Oktober 1976. Masa pendidikannya sejak SMP sampai kuliah dihabiskan di Kota Bandung. Setelah lulus Sarjana Teknik Arsitektur ITB Tahun 2001 langsung bekerja di konsultan kecil di Jakarta tempat magangnya sewaktu kuliah, dan akhirnya pada tahun yang sama memutuskan  untuk kembali ke Serang menjadi abdi dalam (baca : PNS) Provinsi Banten dan saat ini menjabat sebagai Kepala Satuan Kerja Non Vertikal Penataan Bangunan dan Lingkungan Provinsi Banten. Sejak sekolah sudah aktif pada kegiatan yang menantang seperti pramuka, penjelajah alam dan aktivis underground Gerakan Mahasiswa Indonesia untuk Perubahan (GMIP) ITB tahun 1998 yang memelopori tumbangnya rezim Orde Baru. Sejak tahun 2008 mulai mewujudkan impiannya untuk menyelamatkan peradaban dengan desain dan teknologi yaitu dengan menjadi Pejuang Eco Village dan membangun kampung ramah lingkungan (founder) Tapak Bumi Village di tambak peninggalan orang tuanya di daerah pesisir teluk Banten, Karangantu, Kota Serang. Selain menjadi Pejuang Eco Village, Mukoddas Syuhada alias Kodas, Mumu, atau Alban, aktif di dunia arsitektur dan meraih sertifikat sebagai Arsitek Madya tahun 2007 melalui karya-karya desainnya yang ramah lingkungan serta menjadi salah satu penggagas Ikatan Arsitektur Indonesia (IAI) Cabang Banten dan saat ini menjadi salah satu Dewan Kehormatan IAI Banten. Awal tahun 2010, meraih gelar Master Tehnik (MT) dari Magister Teknik Sipil UPH dan bermimpi lagi menjadi bagian dari sejarah peradaban Banten dengan memberikan ide masalah penataan bangunan dan lingkungan di Banten. Karena kecintaannya terhadap lingkungan dan dampak dari pemanasan global, maka di tahun 2010 juga, bersama-sama dengan alumni dari ITB menggagas komunitas energi terbarukan dengan membentuk organisasi Implementing Renewable Energy Society (IMPRES) yang menargetkan 20% kebutuhan energi terbarukan nasional disuplai dari IMPRES. Tahun 2011 ini membentuk LSM Banten Creative Community (BCC) yang merupakan komunitas orang-orang kreatif untuk menjaga dan melestarikan peradaban di Banten.

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »