Share with Esih Yuliasari

21.52
Salah Cinta


Oleh : Esih Yuliasari
Bicara cinta, pasti bicara soal hati. Bicara hati, tentunya bicara tentang perasaan. Bicara perasaan, pasti ujung-ujungnya jadi bicara cinta. Hadeuh... Mbulet disitu-situ aja deh kayaknya. Namun jika para aktifis dakwah cerita Cinta, mesti hati-hati nih...

Pernah ada seorang sahabat datang kepada ana dan bertanya, "Akhir-akhir ini ana sering salah tingkah kalau ketemu si Fulan, kenapa ya? Apa ada yang salah dengan hati ana?"
"Menurut anti sendiri gimana?"jawabku dengan senyum geli.
"Ndak tahu juga, si akhi sering perhatian sama ana, SMS, ngingetin untuk tahajud, kirim tausyiah, yah... jadi GeeR sendiri sekarang," ucapnya malu-malu. Sambil tersenyum, ana berkata dalam hati, emangnya siapa ente? Bapaknya? Atau murobbinya? Sampe sibuk mengingatkan shalat segala?

Huft... Tak satu dua kali ana mendengar cerita seperti ini. Saking seringnya, jadi bosen juga, hhehe...
Perlahan ana jelaskan padanya tentang tujuan awal organisasi ini, yaitu dakwah, yang didalamnya kita mencari keberkahan dan keridhoan Allah, yang didalamnya kita bekerja untuk melanjutkan risalah Rasulullah, bukan ajang mencari perhatian atau ingin diperhatikan oleh manusia, dan yang terpenting bukan ajang bermaksiat kepada Allah. Jangan sampai niat kita terselewengkan oleh satu manusia dan satu hal kecil berbau perasaan.

Sering memang terjadi penyelewengan-penyelewengan yang dilakukan oknum-oknum tak bertanggungjawab dengan memanfaatkan amanah yang diemban. Mula-mula hanya SMS pengingat tentang tugas dan amanah yang diemban. Semakin lama beralih menjadi SMS tausyiah (udah kayak tausyiah center aja, hhehe...). Beberapa minggu kemudian, mulailah SMS pengingat shalat dan beribu perhatian agar tetap menjaga amalan. Ketika berpapasan sok menjaga pandangan, namun kalau sudah sms-an, subhanallah... pulsa sampe habis-habisan. Yah... Sempit memang celah itu, namun syetan bermain di dalamnya dan mulai membengkokkan niat para pendakwah.

Mungkin kita perlu merenungi ketika kisah cinta telah memakan cukup banyak korban dan menambah catatan kelam didalamnya. Kasus VMJ telah merebak hingga menjamur dikalangan aktifis, HTS yang makin diidolakan, dan sejuta kisah klasik ala muda mudi yang malah semakin tak terbendung dikalangan penggiat dakwah. Padahal, seharusnya mereka yang telah masuk di kancah dakwah, lebih tahu bagaimana aturan Islam dalam menjaga hijab antara ikhwan maupun akhwat. Namun nyatanya, tak sedikit dijumpai seorang akhwat yang mau dibonceng ikhwan dengan alasan nggak dapet angkot, padahal masih pada berseliweran di jalan. Sering pula terdengar ikhwan akhwat berduaan dalam satu ruangan dengan alasan melaksanakan tugas dakwah yang masih menumpuk. Sering pula ikhwan ataupun akhwat bersenda gurau dengan akrab, begitu dekat dan lepasnya dengan lawan jenisnya. MasyaAllah... Semoga Allah menjaga kita dari kekhilafan tersebut.

Miris memang, ketika kita menyampaikan berbagai hal tentang seni menjaga hati, dilain pihak kawan-kawan kita tak mampu melakukannya. Ketika kita berkoar menyampaikan hukumnya berpacaran dalam Islam, teman kita berjojong ria bergandengan mesra dengan ikhwan (yang menurutnya) idamannya. Saat terharu mendengar kisah Ali dan Fathimah yang begitu teguh menjaga cintanya dari kemaksiatan, sahabat kita justru berlomba mengumbar cintanya hingga berujung maksiat. Astaghfirullah...

Bukannya mereka tak diingatkan, bukannya mau masuk syurga sendiri, namun pola fikir yang berbeda dan mulai jauh dari sudut pandang Islami membuat segalanya menjadi berjarak. Pernah suatu kali mengingatkan seorang sahabat yang mulai mencari dan mencuri cinta seorang akhwat, ana katakan bahwa kita semua telah faham, hidup mati, harta, jodoh, semua ada di tangan Allah, yakinlah Allah nanti kan memberi yang sesuai dengan dirimu, tak perlu mencari-cari dulu untuk saat ini, jaga saja untuk yang nanti. Namun jawaban yang ia berikan membuat ana semakin tercengang dengan cara berfikirnya, ia berkata bahwa memang jodoh Allah yang mengatur, namun jodoh juga harus dicari mulai dari sekarang. Masya Allah... Siapa yang sebenarnya salah? Cara berfikir ana atau cara berfikir dia? Dan kalaupun saat ini seseorang yang ia temukan juga merespon dan berkomitmen dengannya, apakah nantinya ia yakin bahwa Allah akan benar-benar menyatukan mereka? Atau sebaliknya? Wallahu'alam

Tak sedikit yang perlahan mundur dan menjauh dari jalan ini, juga semata-mata karena cinta. Ada banyak kasus yang harus ditangani, juga bermuara dari satu kata....cinta. Hmh......benarkah ini cinta yang selama ini kita cari ? Benarkah ini muara akhir rasa cinta dalam diri kita?

Ah, andai setiap akhwat mampu menjaga hatinya seperti Fatimah, dan andai setiap ikhwan juga mampu menahan perasaanya dan berjihad untuk menjaganya seperti Ali, namun terlalu tinggi mungkin angan ini. Realita kehidupan memang sering tak sepaham dengan apa yang kita harapkan. Dan kini, banyak sekali aktifis yang salah mengarahkan cintanya. Cinta yang hanya mengharapkan manusia dan kebahagiaan dunia, tak akan membuat puas bagi pencarinya, tak akan membawa kebahagiaan yang hakiki. Namun pencari cinta sejati, yang selalu mendamba Cinta Yang Maha Suci, pencari cinta Illahilah yang insyaAllah nantinya akan merasakan kebahagiaan hakiki itu. Karena tak akan ditemukan cinta dan bahagia yang hakiki itu di dunia, namun ia akan mengunjungi di akhirat kelak.

Lalu, bagaimana? Pencarian cinta tak akan berhenti di dunia. Tak akan berhenti meski telah duduk di pelaminan. Tak kan terhenti hingga maut mempertemukan kita dengan Sang Maha Cinta, Kekasih sejati, Allahurabbul izzati. Hingga Ia menyambut kita dengan penuh cinta, merasakan kebahagiaan syurga yang dijanjikan. Merasakan karunia terindah, memadukan cinta dengan Robb kita, Allah, Azza wa Jalla. ***

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »