Share with Badri Yunardi

22.33
Menghidupkan kembali Ruh Mukhlisin menyambut Ramadhan

Oleh: Badri Yunardi

Kita mungkin lupa bahwa jihad yang paling besar adalah jihad melawan hawa nafsu hal ini sebagaimana sabda Nabi Muhammad SAW, seusai perang Badr salah satu perang yang paling besar dan fenomena dimana perang ini langsung di pimpin oleh Nabi sendiri dan bisa dikatakan fenomena kekuasaan Allah karena dalam perang ini secara perhitungan di atas kertas mustahil 314 orang umat Muslim bisa menang melawan  1000 pasukan kafir Quraisy yang dipimpin oleh  Abu Jahal, Abu Sufyan dan dibantu oleh Aswad bin Abdul As’ad, Utbah bin Walid dan Syaibah. Namun tidak ada yang tidak mungkin bagi Allah, Tuhan pemilik pasukan semesta alam. Dan sabda Nabi usai perang yang membuat para sahabat sontak kaget adalah; kita baru saja hijrah dari jihad Ashgor (kecil) menuju jihad Akbar (besar), sahabat yang mendengar sabda tersebut otomatis memiliki tanda tanya besar, dalam hati para sahabat mungkin berkata;
Perang yang luar biasa besarnya ini hanya dianggap jihad kecil?
Lalu salah seorang sahabat yang sudah tidak kuat untuk mendengar penjelasan prihal sabda tersebut bertanya kepada Nabi; lalu apa itu jihad akbar (jihad besar)
Nabi menjawab; yaitu jihad melawan hawa nafsu

Jelaslah betapa besar dan sulitnya melawan musuh yang jelas-jelas ada di dalam diri kita, berbeda dengan melawan musuh yang tampak seperti dalam peperangan, kita bahkan sering tidak menyadari penyakit-penyakit kronis yang ada di dalam hati kita, nah, untuk menyambut bulan yang penuh Rahmat dan Maghfirah ini—bulan yang penuh nilai-nilai Sosial dan bulan yang penuh ampunan ini, alangkah indahnhya bila kita menyiapkan hati kita untuk menerima luasnya karunia Allah di bulan Ramadhan nanti. Untuk itu kita perlu meningkatkan nilai keikhlasan kita, ikhlas merupakan senjata yang paling ampuh untuk mengalahkan musuh nyata yang bersembunyi dalam hati kita, ikhlas merupakan obat yang paling mujarab untuk mengobati penyakit kronis yang ada di dalam hati kita, dengan keikhlasan yang kuat kita pasti mampu meraih kemenangan yang sempurna nanti bersama berkumandangnya takbir awal Syawwal dan kita seperti terlahir kembali dengan kondisi yang fitrah, suci, bersih layaknya kapas putih. Adapun hal-hal yang perlu dilakukan untuk melatih keikhlasan kita adalah:

Pertama, Membangkitkan kesadaran bahwa ibadah puasa adalah ibadah antara seorang hamba dengan Tuhan saja dan Tuhan berjanji bahwa Dia yang langsung memberikan pahala (wa Ana ‘Izibihi), dan itu artinya orang tidak mungkin tahu bahwa kita sedang melakukan  ibadah puasa atau tidak, kadang orang yang cenderung tidak memahami ibadah puasa adalah ibadah untuk Tuhan, gemar melakukan perbuatan-perbuatan yang intinya membohongi diri mereka sendiri, mereka dihadapan orang-orang tampak seperti atau berlaku seperti orang yang sedang berpuasa, namun ketika kondisinya sedang sendirian mereka melakukan hal-hal yang membatalkan puasa, padahal Allah Maha Melihat dan Maha Mengetahui. Nah, lalu apa solusi untuk tidak terjebak dalam kondisi seperti itu, solusinya yaitu kita cukup menerapkan nilai-nilai Ihsan bahwa dimanapun kita berada, sendiri, sepi atau dalam keramaian yakinlah bahwa Allah selalu ada, ihsan bisa diartikan seperti “engkau menyembah Allah seolah engkau melihatNya atau jika engkau tidak melihatNya, yakinlah bahwa Allah melihatmu.”

Kedua, Memberi tanpa pamrih, percaya atau tidak, kita cenderung memanjakan diri kita dengan memenuhi kebutuhan yang serba wah!, fasilitas-fasilitas yang serba nyaman dan mahal, hal ini berbanding terbalik dengan orang yang serba kekurangan, untuk itu di bulan Ramadhan nanti adalah kesempatan kita untuk melatih kepekaan kita terhadap sosial, untuk selalu memberi tanpa pamrih, penulis sering melihat bahwa untuk menikmati kolak waktu berbuka puasa saja orang yang tidak mampu harus pergi ke masjid karena di sana disediakan beraneka macam kolak untuk berbuka puasa bersama. Memberilah tanpa pamrih, karena dengan memberi kita sudah menjadi orang-orang yang bersyukur, memberikan uang Rp 500 atau Rp 1000 kepada pengemis, pengamen, atau musafir tidak akan membuat kita jatuh miskin bukan?.   

Ketiga, melatih kesabaran, kalau dianalogikan kesabaran adalah atom, maka keikhlasan adalah inti atom, kalau kesabaran adalah kulit kacang maka keikhlasan itu sendiri adalah kacang, orang-orang sering berkata “kesabaran saya sudah habis!” dan apa yang terjadi?, kemarahan meledak-ledak, imbasnya derajat orang tersebut akan turun drastis. Perlu kita ketahui kesabaran tidak akan pernah habis selama kita masih hidup, kesabaran tidak ada batasnya, bukankah Rasulullah juga manusia dan beliau telah mampu mengaplikasikan nilai-nilai kesabaran yang luar biasa, ditinggalkan orang-orang yang menyayangi beliau, dicaci maki, didzalimi, dilempari kotoran, dilempari batu di kota thaif namun kesabaran dan keikhlasan beliau untuk berdakwah sedalam hati yang tak’ bisa diselami, seluas samudera yang tidak bertepi, Subhanallah, sementara kita umatnya, kesenggol sedikit golok bangkit! Kita sering berdalih Rasulullah kan Nabi, Rasul! Sementara kita kan manusia biasa! Ini adalah alasan-alasan syaithan yang dihembuskan ke dalam dada manusia agar manusia selamanya menjadi budak kebencian, budak kemarahan, mengikuti langkah-langkah syaithan, Na’udzubillah tsumma Na’udzubilla.

Untuk itu mari kita bangkitkan dan menghidupkan kembali Ruh Mukhlisin untuk menyambut Ramadhan dan kita terapkan nilai-nilai keihklasan dalam kehidupan sehari-hari baik di bulan Ramadhan maupun di bulan-bulan setelahnya. Ingat bulan suci Ramadhan adalah sekali dalam setahun, dan belum tentu kita menjumpainya lagi di tahun depan, manfaatkan seefektif mungkin mumpung masih ada umur, lakukan rutinitas-rutinitas yang positif dan bernilai beribadah, ketimbang rutinitas yang sama sekali tidak memiliki nilai manfaat untuk kita bahkan hanya mengandung nilai-nilai yang mudharat. Wa Allahhu ‘Alam. Marhaban ya Ramadhan. ***



Badri Yunardi, Lahir di Tangerang Banten, 10 Agustus 1989. Sejak Madrasah Ibtidaiyah hingga Madrasah Aliyah diselesaikan di Yayasan Pendidikan Islam (YPI) Al-Amin, desa Renged Kec. Kresek Kab. Tangerang. Pernah kuliah di Islamic College, Jl. Pejaten Raya No.19, Jakarta Selatan 12510. Website: www.icas.ac.id.

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »