Reportage : TAMAN NASIONAL UJUNG KULON

21.11
MEMINIMALISIR PERAMBAHAN HUTAN DI KAWASAN TNUK


Oleh: Lulu Jamaludin

Pandeglang, (31/7) - Berbagai aksi perambahan dan pengrusakan hutan di kawasan Taman Nasional Ujung Kulon (TNUK), bisa diminimalisir melalui pemberdayaan warga sekitar kawasan yang dilindungi tersebut.Yakni dengan memanfaatkan potensi yang ada pada masyarakat tanpa harus merusak areal TNUK yang merupakan habibat hidup bagi badak jawa yang hampir terancam punah.

Hal tersebut terungkap dalam pertemuan yang difasilitasi  oleh Kelompok Kerja Aksi Konservasi Badak Jawa (Pokja AKBJ) dengan perwakilan warga dari 10 desa yang berbatasan langsung dengan hutan TNUK di Kecamatan Sumur, Pandeglang.

Selain terungkapnya harapan untuk memberdayakan masyarakat di sekitar kawasan untuk mencegah perusakan kawasan TNUK beserta habitatnya,dalam kegiatan tersebut terbentuk pula Task Force,yang terdiri dari perwakilan Pokja AKBJ , Badan Lingkungan Hidup Daerah (BLHD) Provinsi Banten, Taman Nasional Ujung Kulon (TNUK), BP DAS, Bapeda Banten, Dishutbun Banten, Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Banten, Disbudpar Banten, Distanak Banten, Bapeda Pandeglang, Dishut Pandeglang, DKP Pandeglang serta perwakilan dari LSM Rekonvasi Bhumi dan Palapa Ngareksa Bumi.

Ketua Task force np Rahadian menerangkan,task force  atau satuan kerja ini merupakan bagian untuk memberdayakan masyarakat di sekitar kawasan Ujung Kulon dengan mensinergikan berbagai program yang ada di masing-masing instansi yang masuk dalam task force untuk masyarakat di sekitar kawasan.

Sementara,dalam pertemuan tersebut,Husen, kepala Resort wilayah Sumur, mengatakan pembentukkan task force harus memiliki semangat yang sama untuk memberdayakan masyarakat yang ada di sekitar kawasan ujung kulon. Dengan membangun koalisi yang sama diharapkan bisa tercapai keinginan yang sama.

“Selain itu, diharapkan juga melibatkan elemen lain seperti dari cipta karya, agar ada sinergi pembangunan di sekitar kawasan,” kata Husen.

Harapan besar terhadap task force juga dikemukakan oleh Abdul Aziz dari Desa Kertamukti, Sumur, Pandeglang. Keberadaan task force, diharapkan mengakomodir kebutuhan masyarakat yang ada di sekitar ujung kulon, diantaranya pengembangan pariwisata, pelatihan kemampuan bahasa asing bagi warga untuk menjadi guide asing serta masyarakat yang menggantungkan harapan hidup di ujung kulon.

Di sisi lain, Edi Kebo, ketua Gapoktan Desa Kertamukti berharap adanya bantuan dari dinas dan instansi yang berada dalam task force untuk masyarakat setempat. Bantuan baik untuk para penggarap maupun alat tangkap bagi nelayan untuk menjaring ikan, dimana pada musim-musim tertentu menghasilkan tangkapan berlimpah, serta adanya lembaga yang bisa menampung hasil tangkapan nelayan.

“Kami juga  mebutuhkan pula adanya dukungan dari Dinas Kehutanan untuk program  hutan rakyat bagi masyarakat yang ada di sekitar kawasan ujungkulon,”ujar edi Kebo.

Sementara itu,Kamiruddin dan Sukaya, tokoh masyarakat dari Desa Ujung Jaya mengatakan, ada potensi hutan garapan rakyat dan hutan milik yang belum termanfaatkan, serta dibutuhkannya pembangunan infrastruktur jalan bagi masyarakat yang tinggal di sekitar kawasan ujung kulon. Kemudian, persoalan sarana air bersih, pola pemberdayaan terhadap masyarakat juga harus ditingkatkan agar mereka tidak melakukan perambahan dan pengrusakan hutan, melainkan justru memanfaatkan potensi yang ada di sekitar kawasan hutan.



“Serta  diperlukan pula penataan zonasi, khususnya di wilayah legon pakis agar segera dilakukan dan merupakan bagian dari tindaklanjut pertemuan antara masyarakat dengan Balai TNUK beberapa waktu sebelumnya,”ujar Kamirudin.

Dede Rukman dari Lembaga Konservasi Desa Cibadak dan Sekdes Cibadak mengatakan, sejak berdirinya LKD, dibutuhkan waktu lebih dari satu tahun untuk membangun kesepahaman dengan masyarakat, dimana LKD yang digagas oleh TNUK menjadi ice breaking antara masyarakat dengan TNUK.

Menurutnya, keberadaan LKD mampu membangun berbagai sarana dan prasarana yang diperlukan masyarakat, termasuk didalamnya jaringan air bersih sepanjang 5000 meter bagi 700 rumah meski dengan bahan baku seadanya.

“Task force juga diharapkan bisa mendukung pengembangan pariwisata dan rencana pembangunan hutan tanaman langka di kawasan agar lebih bermanfaat,”tegasnya.

Kepala Desa Keryajaya, Adna dan Kusrianto dari Desa Kertajaya mengatakan, sebagai pintu gerbang kawasan TNUK, perlu adanya pembenahan sarana infrastruktur menuju kawasan ujungkulon. Kemudian diperlukan pemberdayaan masyarakat untuk menggali potensi diri dengan memanfaatkan yang ada di sekitar bukan di dalam kawasan ujung kulon.

Menyikapi seluruh harapan para peserta pertemuan tersebut, ketua task force, np Rahadian mengatakan task force akan menghimpun seluruh aspirasi dari masyarakat yang berasal dari 10 desa yang berbatasan langsung dengan kawasan ujungkulon.

“Aspirasi itu, nantinya disinergikan dengan berbagai  program yang ada di pemerintahan, agar mendapatkan hasil maksimal, sehingga pemberdayaan masyarakat lewat program yang ada akan lebih berhasil dan masyarakat mendapatkan manfaatnya,” jelas Rahadian. ***

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »