PUISI : RAMADHAN

21.44



Nyanyi untukmu Ramadhan

Aku ingin bernyanyi untukmu Ramadhan
Menyambutmu dengan kemegahanNya
Mengusap gelap tahun lalu
Semoga sampai sucinya
Senantiasa sucinya
Karena di Ramadhan
Berseri-seri pada siangnya
Dan tenggelam tenang di malam-malam sambutan
Malaikat senantiasa memukul bedug
Menyempurnakan ramainya dini hari
Yang biasa sepi
Dan tahajjudku akan penuh simbah
Dahi, hidung, telapak tangan, lutut, jari kaki, hati dalam sembah
Menangis memungut berkah
Memang tak pantas hamba berkilah
Sebab dosa numpuk bak sampah
Dan hamba hanya meminta setitik maghfirah
Agar hamba tetap bisa bernyanyi
Menyambut Ramadhan lagi

Kresek,
Ahad, 10 juli 2011

Ketika Ramadhan
Ketika wangimu mulai menyibak wangiNya
Tangan ini tak bisa tidak untuk meminta
Meminta ampunan
Memohon belas cinta
Mengemis keridhaan
Telah lama kealfaan ini membuat lemah jiwa
Membuat renyuh hati
Aku menangis sunyi
Letih mengadili hati
Begitu lama dan jauh
Tapi ketika sunyi mendekap
Degup jantung memipih
Rendah
Tapi terdengar
Sayu
Do’a mewujud dari hati merintih
Sebab
AmpunanMu
Rahman dan rahimMu
Memanjangkan kembali harapanku
Menghidupkan rasa penghambaanku
Ketika Ramadhan menuai cintaNya

Jakarta,
Selasa, 14 Juni 2011



PUISI Esih Yuliasari

Surau Setapak

Kelepak kelelawar berkelebat di sore malam
Dua anak bersarung berpeci, berkerudung menanti
Teman ngaji di surau dengan dingklik ini

Berlarian kecopak sandal jepit
Menggamit sarung kerudung yang kedodoran
Lewati jalan setapak mengukur jarak
Surau yang agak jauh letak
Tetapi mereka tak pernah mengeluh sesak

Guru ngaji setengah tua
Suaranya sungguh istimewa
Membuat anak anak betah mengeja
Dari alif sampai yaa
Menoreh hati memahat jiwa
Adik adikku
Jadilah kau anak anak yang bertaqwa...

Gundah

Ketika hati gundah
Mau menulis puisipun rasanya wegah
Pinginnya hanya duduk diam
Memandang langit sembari bergumam
Jangan kau ganggu dulu langitku baru temaram

Gemericik air bening diparit itu
Sedikit menyejukkanku
Angin semilir mengelus halus emosi
Aku ingin disini menata mimpi
Yang pernah terkubur ganasnya tsunami

Maafkan bila jiwaku belum mengunjungimu
Untuk sekedar bersapa menali rindu....




PUISI  Badri Yunardi

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »