Economy : UMKM (TIDAK) SULIT MENGAKSES PROGRAM BANK

21.29

Di setiap pertemuan, baik itu seminar dan diskusi mengenai usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) yang saya ikuti, pokok persoalan dan keluhan yang terdengar ujungnya selalu sama yaitu modal, dan mereka kesulitan dalam mengakses kredit dari Bank  karena selain informasi yang minim, juga terkendala persyaratan. Padahal hampir semua Bank memiliki program pro-UMKM dengan alokasi dana yang tidak kecil jumlahnya.

Oleh: Alawi
Walaupun sektor UMKM telah terbukti relatif stabil ketika menghadapi krisis financial beberapa waktu yang lalu, dimana mereka memiliki resiko kredit macet yang rendah atau biasa disebut non-performing loan (NPL), namun pihak Bank dirasakan seringkali mengajukan persyaratan yang begitu ketat mengenai berbagai peraturan yang harus dipenuhi oleh pelaku UMKM. Begitu juga sebaliknya, pengajuan kredit ke Bank dari pelaku UMKM sebagian besar terhambat masalah administrasi yang diminta seperti perijinan usaha dan lain-lain.
Tidak adanya kesepahaman yang sama antara pihak Bank dengan pelaku UMKM mengenai standarisasi UMKM itu sendiri terkadang menyebabkan penyaluran kredit tidak berjalan lancar sebagaimana yang diharapkan. Pelaku UMKM merasa tidak memiliki akses untuk mengajukan kredit ke Bank sehingga hambatan terbesar mereka masih pada persoalan modal usaha yang sulit didapatkan dari Bank, padahal faktor yang ikut mempengaruhi adalah tidak sistematisnya pelaku UMKM dalam mengembangkan usahanya.
Hal yang paling menarik buat saya adalah kehadiran PT. Bank Pundi Indonesia, Tbk (“Bank Pundi”) sebagai Bank yang memiliki komitmen dan fokus untuk menggarap sektor UMKM. Bank ini memberikan pendampingan kepada para debitur agar mereka bisa tumbuh berkesinambungan dan tidak menjadi akun bisnis semata, sehingga pertumbuhan kredit bisa lebih cepat.
Pendampingan itu bisa diberikan bertahap, misalnya dengan memberikan opsi pola-pola usaha, bagaimana cara membangun usaha atau  franchise. Bisa juga dengan menggandeng lembaga swadaya masyarakat (LSM)) dan lembaga pendidikan untuk memberikan pendamping ke pelaku UMKM. Program pendampingan seperti inil memberikan harapan  akan terbentuk nya kemitraan dari berbagai macam keragaman untuk mencapai kemakmuran pelaku UMKM. Dengan begitu, kemakmuran tidak saja milik orang yang permodalannya kuat, tetapi juga dinikmati jejaring dalam kemitraan tersebut dengan semangat keberagaman dan gotong royong.    
Dibalik hingar bingar pembiayaan segmen usaha mikro, kecil dan menengah ini, ternyata Bank Pundi cukup jeli melihat ceruk pasar yang masih luas didalamnya, bagaimana tidak, dari 42 juta UMKM dengan kebutuhan kredit sekitar Rp 10 triliunan diprediksi hanya 30%-40% saja yang dibiayai oleh perbankan. Bisa dibayangkan masih banyak UMKM yang memerlukan pembiayaan untuk mewujudkan kemakmuran mereka.
Apa yang sudah saya uraikan diatas menunjukkan bahwa perkembangan pembiayaan kepada sektor UMKM selama ini cukup menggembirakan dan akan semakin meningkat. Keyakinan ini tentu saja harus diikuti pendekatan dan kinerja yang lebih baik lagi dari sektor perbankan kepada pelaku UMKM sehingga keberadaan Bank ditengah-tengah usaha mikro, kecil dan menengah  lebih dirasakan sebagai sebuah solusi, Begitu juga sebaliknya dengan pengembangan sektor UMKM dipandang perlu pelaku UMKM untuk terus mengupdate informasi serta lebih meningkatkan komunikasi dan kualitas pengelolaan administrasi usahanya sesuai dengan apa yang dipersyaratkan oleh pihak perbankan, sehingga pelaku UMKM tidak lagi merasa kesulitan dalam mengakses program pembiayaan dari sektor perbankan. Terciptanya situasi seperti ini diharapkan akan mendukung peningkatan peran penting sektor UMKM dalam perekonomian nasional. Semoga !  ***
(dari berbagai sumber)

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »